Showing posts with label Gramedia. Show all posts
Showing posts with label Gramedia. Show all posts
Saturday, July 26, 2014
Sunday, June 1, 2014
2014/22 A Good and Happy Child (Justin Evans)
![]() |
| Sumber Gambar: yfrog.com |
Judul Indonesia: Rahasia Bocah dari Masa Lalu
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah: Gita Yuliani K.
Editor: C. Donna Widjajanto
Desain sampul: Eduard Iwan Mangopang
Cetakan: I, Juli 2012
Ayah yang Ketakutan
George Davies menemui psikiaternya. Dia bercerita kalau dirinya adalah seorang ayah baru, tetapi dia tidak pernah menyentuh anaknya. Dia tak berani. Ada sesuatu yang menghalanginya untuk itu. Hal itu sudah membuat kesal istrinya, membuat mertuanya ingin ikut campur melalui sindiran-sindiran. Dia ingin sembuh, ingin kembali menyatukan keluarganya yang berada di ambang perceraian.
George mengaku dia pernah mendapatkan perawatan psikiater sebelumnya. Waktu dia 11 tahun. Saat mencoba mengingat, George tak sepenuhnya langsung menjelaskan semuanya. Kemudian, sang psikiater menyarankannya untuk memiliki jurnal. Dia harus mengisinya dengan apa pun, agar mereka sama-sama tahu jika ada masalah. Dan semua rahasia masa lalu tertulis dalam buku-buku jurnal tersebut. (Isi jurnalnya dibuat seperti cerita, bukan murni jurnal seperti diary).
Awalnya, jurnal itu berisi tentang kesedihan seorang bocah gemuk, berkacamata, tidak punya teman, dan korban bully di sekolah. Ayahnya baru saja meninggal setelah pulang dari luar negeri. Dia tidak menangis setelah tiga bulan kemudian, tetapi dia merasa hidupnya semakin menyebalkan. Selama ini dia merasa ayah atau ibunya tidak pernah benar-benar memperhatikannya.
Saat teman ayahnya, Tom Harris, bertandang ke rumah mereka, George merasakan sesuatu antara pria itu dengan ibunya. Seakan-akan ada yang terjadi, dan baru dilihatnya setelah sang ayah meninggal. Dia mencoba mengabaikan pemikiran tersebut.
Hingga suatu malam dia melihat sebuah wajah di kamar mandi.
George Memanggilnya: Temanku
Dia tidak benar-benar nyata, George tahu itu. Awalnya Teman itu berupa wajah, lalu ketika tengah malam dia seakan utuh. Teman khayalan. Jenis teman yang bisa dimiliki oleh anak-anak. George mengatakan Teman mirip Huckleberry Finn, salah satu karakter ciptaan Mark Twain. Bocah itu dekil, berambut keemasan dan selalu kusut. Seringainya menyimpan banyak ide kenakalan.
Dialah yang memberitahu George bahwa seseorang menginginkan kematian ayahnya. Dia juga yang membawa George ke taman kampus, dan menemui Tom Harris. George menyimpulkan bahwa Tom adalah orang yang membunuh ayahnya. Dan Teman menyuruh George menanyakan surat-surat ayahnya kepada Tom Harris, tetapi Tom tidak mau mengaku. Teman juga mengaku dia tahu bahwa ayah baptis George, Freddie, juga terlibat dalam hal ini. Dia juga mengatakan tentang surat. Karena tidak berhasil mendapatkan apa yang diinginkan, Teman melalukan hal lain.
George dibawa ke ayahnya. Sosok ayah dalam mimpi ini, mengaku kalau Tom dan Freddie membunuhnya. Dan George ingin membalas dendam. Tetapi, karena dia baru 11 tahun, dia tidak melalukannya sendirian. Dia malah tak sadar sadar melakukannya. Dia memutus kabel rem di mobil Tom Harris, menyebabkan pria itu kecelakaan dan kakinya patah. George dibawa ke psikiater untuk pengobatan. Dia disangka hanya sekadar anak nakal. Tetapi bukan, dia tidak melakukannya sendirian.
Semenjak itu, Tom beserta dua temannya—juga teman Ayah George—Freddie dan Clarissa, tahu bahwa sesuatu telah terjadi dengan George. Bocah itu didekati oleh setan, iblis, atau roh jahat dari neraka yang ingin membalas dendam. Mereka dendam karena ayah George sudah melakukan sesuatu yang dilanggar. Yaitu mencoba memasuki dunia setan untuk mencari kelemahan makhluk itu agar tidak mengganggu manusia lagi.
George cilik harus menghadapi masalah orang dewasa. Dia pun mulai mengenal ayahnya dari cerita teman-teman ayahnya. Bahwa ayahnya penganut agama yang taat, yang menulis buku tentang setan dan jin secara ilmiah, tetapi malah dijauhi oleh kalangan akademisi. Bahwa ayahnya pergi ke Honduras karena mendapat visi-visi di sana dia bisa meneliti lebih lanjut. Bahwa George memiliki kemampuan yang dulu dimiliki ayahnya.
Dan George harus menyingkirkan Teman agar tidak mengganggunya lagi.
Fantasi, Horor, dan hmm, Relijius
Aku suka buku ini. Awalnya aku mengira ini cerita tentang teman khayalan saja. Ternyata cerita berlanjut ke kelompok relijius yang percaya bahwa iblis itu ada dan bisa menguasai manusia atau benda demi berbuat kerusakan. Ayah George meneliti dan menulis buku tentang itu, tetapi dia ingin melakukan dengan cukup ekstrim: dia ingin pergi langsung ke neraka untuk mencari tahu kelemahan iblis. Tentu saja iblis-iblis itu marah.
Novel ini benar-benar page turner. Aku merasa ingin terus mengetahui kelanjutannya. Menurutku, salah satu kekuatan novel ini adalah ia tidak berusaha untuk menahan-nahan rahasia secara berlebihan. Jika pembaca ingin tahu apa yang terjadi, kisahnya juga bergulir ke sana. Setelah didapatkan “pengetahuan baru” kita disuguhkan konsekuensinya, yaitu pertanyaan apa yang akan terjadi selanjutnya.
(Inilah bedanya dengan sebuah buku penulis lokal yang kubaca di waktu bersamaan. Buku lain ini mencoba membuka rahasia, yang sebenarnya semua pembaca sudah menebak karena jelas-jelas kuncinya ada di judul, di akhir cerita. Seakan-akan pembaca bisa ditipu. Dan sayangnya, dia melakukan itu sekitar 3 kali.)
Kita kembali ke George. Aku merasa bisa memahami kenapa dia bersikap aneh di saat kecil, maupun dewasa. Dia diragukan oleh banyak orang. Dia selalu merasa tidak cocok berada di mana pun. Bahkan psikiaternya pun sempat menanyakan apakah cerita George di jurnal itu nyata, atau hanya khayalannya saja.
Pada bagian George dengan psikiaternya saat dewasa, cerita menggunakan POV 1 sekaligus 2. Penulis menempatkan dirinya sebagai George (aku) dan pembaca sebagai Sang Psikiater (kamu). Asyiknya, menurutku, kita seperti dilibatkan dalam cerita.
Selain itu semua, novel ini benar-benar membuatku merinding, ketakutan, bisa merasakan betapa kesalnya punya orangtua yang tidak pengertian. Aku bisa merasakan emosi di dalam buku ini. Seakan-akan ceritanya memang nyata. Dan cerita ini juga mengingatkanku pada serial Supernatural. Hmm, kenapa cerita dengan tema pembasmi setan selalu memuat kisah diabaikan orangtua, ya? Aku jadi kepikiran.
Sekali lagi, aku suka buku ini. Dan aku cukup kaget kalau ini buku pertama Justin Evans, yang sehari-harinya bekerja sebagai eksekutif pengembang strategi dan bisnis. Keren!
Labels:
America,
children,
family,
fantasy,
Gramedia,
horror,
male author,
POV 1,
POV 2,
spiritual,
varied POV
Friday, May 9, 2014
2014/19 Just One Day (Gayle Forman)
![]() |
| Sumber Gambar: Aulia |
Penerjemah: Poppy D. Chusfani
Editor: Barokah Ruziati
Desain Sampul: Marcel A. W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, 2014
Kecelakaan, Bukan Kebetulan, Seperti Takdir
Pertemuan Allyson Haeley dengan Willem ada kaitannya dengan Shakespeare. Alih-alih menonton drama Shakespeare bersama rombongan remaja yang ikut rangkaian acara di Teen Tour! di Stanford-upon-Avon, Allyson menerima undangan Willem. Dia pergi bersama Melanie, teman sejak masa kecilnya. Dan mereka menonton pertunjukkan Twelfth Night versi kelompok teater tanpa panggung, Gerilya Will. Di sanalah semua dimulai. Saat Willem melakukan kontak mata dengan Allyson. Saat cowok Belanda itu melemparkan koin kepada si cewek Amerika.
Takdir lain terjadi, Allyson bertemu lagi dengan Willem. Dia bercerita penerbangannya ke Paris batal karena aksi mogok pekerja bandara di sana. Willem, seorang petualang yang sudah dua tahun tidak pulang, mengajak Allyson untuk naik kereta bersamanya. Ke Paris. Padahal Allyson bukanlah seorang petualang. Dia hidup bersama orangtuanya yang sudah merencanakan banyak hal semenjak dia kecil. Dia lebih senang tiduran di kamar sambil menonton film bersetting Paris daripada benar-benar pergi, apalagi dengan orang asing, yang baru dikenalnya semalam.
| Louise Brooks Sumber Gambar: Listal.com |
Namun, dia tetap pergi. Kemudian, terjadi adegan yang langsung mengingatkanku pada film Before Sunrise. Di atas kereta mereka saling mengobrol. Tetapi Willem memanggilnya Lulu, singkatan dari Louise Brooks, seorang aktris. Itu gara-gara potongan rambut bob Allyson. Tapi, cewek itu menerima begitu saja. Selama di Paris, mereka mengalami perjalanan yang membuat Allyson menyukai Willem. Semua terjadi dalam satu hari.
Hingga besoknya—tidak seperti di Before Sunrise, mereka terbangun berdua—Allyson malah terbangun sendirian. Dia merasa bodoh sudah memercayai cowok tampan berambut pirang dengan mata sehitam arang. Padahal sepanjang perjalanan sudah berkali-kali Willem bertemu dengan cewek-cewek yang pernah ada sejarah dengannya. Allyson sudah melihat itu, tetapi dia tidak bisa menghentikan perasaannya. Dalam kekalutan dan perasaan seperti habis dirampok, Allyson kembali ke Amerika.
Pertanyaan yang Tepat
Salah satu kutipan Shakespear yang terkenal: to be or not to be, that is the question. Namun, Allyson lebih setuju kalau pertanyaannya adalah tentang bagaimana menjalankannya. Mungkin mudah menjadi sesuatu, tetapi bagaimana menjalankannya adalah tugas yang berbeda.
Allyson memulai kehidupannya menjadi mahasiswi. Mahasiswi yang patah hati. Seperti zombie. Nilai-nilainya turun, dia merasa hanya selalu mengecewakan ibunya yang perfeksionis. Ibunya ingin dia sekolah pra-kedokteran, tetapi Allyson sadar itu bukan yang dia inginkan. Dan sepanjang satu tahun dia masih berduka gara-gara Willem.
Namun, setelah masuk kelas Shakespeare Out Loud, kelas yang membuatnya kenal dengan Dee, cowok kulit hitam dan seorang gay, Allyson berubah menjadi lebih terbuka. Selama ini dia hanya berteman dengan Melanie, sampai-sampai merasa tidak bisa lagi berteman dengan orang lain. Dia menceritakan tentang Willem pada Dee. Dan cowok itu menyemangati Allyson agar bangkit dan mencari jawaban tentang Willem. Lalu, dimulailah satu per satu pencarian. Allyson sadar dia tidak mengetahui banyak hal tentang Willem untuk bsia menemukannya. Tetapi dia percaya pada kecelakaan, sesuatu dapat membawanya ke jawaban yang tepat.
Dan dia menjawab pertanyaan BAGAIMANA. Ya, dia bisa menjadi orang yang patah hati, tetapi bedanya dia menjadi orang yang berjuang untuk menemukan jawaban. Bukan sekadar sakit hati dan galau selama hampir satu tahun penuh.
Jika Aku Tidak Melanjutkan Membaca Buku Ini
Inilah buku ketiga Gayle Forman yang kubaca. Aku suka dwilogi If I Stay. Penulis membuat kisah dengan cara bercerita yang manis. Karakter utamanya cewek yang biasa, tetapi berubah setelah melakukan hal yang di luar dari zona nyamanya.
Awalnya kupikir Just One Day akan sama seperti If I Stay, cerita yang hanya terjadi satu hari. Ternyata tidak. Ini seperti kisah satu hari, dan apa yang terjadi setelah itu. Ya, karena terkadang cerita satu hari memberikan dampak yang sangat besar. Kita penasaran dengan kelanjutannya, kan?
![]() |
| Sumber Gambar: Goodreads |
Aku bisa membagi tiga bagian dalam buku ini: pertemuan Allyson-Willem, masa-masa sedih, dan masa-masa pencarian. Aku suka bagian pertama dan terakhir, tidak yang di tengah-tengah. Penulis memang pintar membuat suasana yang sesuai dengan cerita, sampai-sampai aku terpengaruh untuk malas membaca bagian tengah.
Aku tidak tahu apakah karena memang aku begitu gampang terbawa suasana cerita, tetapi dia berhasil. Aku tidak suka dengan aura negatif yang Allyson alami selama kuliah. Tetapi, aku memahami kenapa dia begitu. Aku bersimpati padanya—dia terpaksa kuliah di jurusan yang tidak dia sukai, gara-gara orangtuanya. Teman-temannya lebih suka berkumpul tanpa dirinya. Dan satu-satunya yang menolong adalah orang lain, konselor di kampus—karena sedikit banyak aku pernah berada di sana. Tapi, ya, aku tidak suka saat dia bersedih hanya gara-gara teringat Willem, dan berusaha untuk melepaskan kenangan. Yang berakhir gagal total.
Maka, aku suka saat dai mulai bangkit dan tidak berdiam diri saja. Dia harus melakukan sesuatu. Misinya mungkin konyol: kembali ke Paris untuk bertemu cowok petualang yang asalnya dari Belanda dengan hanya sedikit petunjuk. Dia harus mendatangi satu per satu petunjuk yang akan mengarahkannya. Di sinilah, Gayle Forman, membuat cerita ala detektif pada cerita romance.
Aku suka dengan novel ini. Walaupun premisnya tentang cewek yang melakukan pencarian cinta masa lalu, banyak hal lain di dalamnya. Tentang orangtua yang memaksakan impiannya kepada anak sendiri. Tentang orang-orang yang suka berpura-pura. Tentang persahabatan. Tentang melakukan daftar sebelum meninggal. Tentang yakin pada keajaiban. Siapa bilang di dalam novel hanya boleh ada satu hal?
Dan aku ingin berbagi kutipan kesukaanku dari buku ini:
Hal-hal kecil yang terjadi. Kadang-kadang kelihatan tidak penting; kali lain hal-hal kecil itu mengubah segalanya. (halaman 59)
Semua orang bukanlah apa-apa yang pura-pura mereka tunjukkan. (halaman 219)
Orang-orang tidak tahu bagaimana harus bersikap terhadapku—di lingkungan rumah, di SMA, di sini—maka mereka selalu berusaha mencari tahu sendiri dan menentukan siapa diriku sebenarnya. (halaman 244)
C’est courageux d’aller dans l’inconnu. Sungguh berani untuk memasuki daerah tidak dikenal. (halaman 294)
PS. Jadi pengen belajar bahasa Prancis :)
Sunday, April 6, 2014
Thursday, March 27, 2014
Tuesday, March 18, 2014
2014/11 Tribe: Andalah Pemimpin yang Kami Cari (Seth Godin)
| Sumber: motherwifeme |
Penulis: Seth Godin
Penerjemah: Tim Publishing One
Penyunting: Antonius Hermawan Susilo
Penerbit: Publishing One
Cetakan: I, 2009
Sekelompok Fresh Graduate
Suatu hari, kita menjadi fresh graduate yang diterima perusahaan. Kita bersama-sama merantau dari kampung ke kota besar demi meniti karier. Di bulan-bulan awal memasuki perusahaan, kita begitu antusias. Perusahaan inilah tempat belajar sekaligus mempraktekkan apa yang pernah kita peroleh di bangku kuliah—walaupun katanya apa yang ada di kuliahan berbeda dengan di lapangan (Hmm, what a stupid statement, I think) —selama empat lima tahun. Pertemuan dengan teman-teman seangkatan adalah saat untuk ‘berbangga’ dengan perusahaan kita masing-masing.
Lalu, setelah beberapa bulan semua berubah. Curhat antusiasme berubah menjadi curhat kekesalan terhadap manajemen dan kinerja perusahaan. Idealisme para mantan mahasiswa ini terkoyak, membebani pikiran mereka, dan membuat mereka menginginkan perubahan. Tetapi curhatnya hampir sama setiap kali bertemu. Sehingga sampai pada pertanyaan: “Kenapa tidak resign saja?”
Dan dia memilih resign.
Dan dia kalah.
Dia tidak menjdi agen perubahan. Ya, agen perubahan, frasa yang sering dilantangkan para mahasiswa. Namun, frasa ini menjadi terlalu sempit karena bagi mereka hanya perubahan diperlukan dalam bidang politik. Padahal masih banyak kelompok-kelompok lain yang butuh diubah, termasuk perusahaan yang bermanajemen dan berkinerja buruk itu.
Jika aku merujuk pada buku yang ditulis oleh pakar marketing ini, Seth Godin, dipastikan teman kita itu tidak menyadari bahwa dia bisa memimpin untuk perubahan. Tidak peduli apakah dia hanya seorang entry level. Dia dibutuhkan untuk melakukan perubahan tersebut. Karena salah satu ciri-ciri pemimpin adalah merasakan kemandekan yang membutuhkan perubahan atau inovasi hingga kelompok menjadi maju dan dinamis.
Jika kamu merasakan sesuatu hal yang butuh diperbaiki, kamu bisa menjadi pemimpin untuk memulai gerakan. Karena kamu dibutuhkan untuk perubahan tersebut.
Leadership
Tidak ada kaitannya kepemimpinan dengan senioritas. Sama sekali tidak ada. Kepemimpinan pun bukan bawaan dari lahir. Karismatik bukan syarat menjadi pemimpin, walaupun pemimpin pasti memiliki karisma. Tidak ada gen khusus pemimpin, atau pun ciri khas bentuk wajah dan sebagainya. Pemimpin bisa tua, muda, kaya, miskin, ekstrovert, maupun introvert. Hanya ada satu persamaan para pemimpin ini: mereka memutuskan untuk memimpin.
Oh, ya, kepemimpinan juga bukan tergantung pada jabatan. Bahkan posisi manajer bukan jaminan seseorang menjadi pemimpin.
Terlalu ambisius dan seakan haus kekuasaan? Tidak, yang diinginkan oleh pemimpin bukanlah ketenaran atau kekuasaan. Pemimpin menginginkan perubahan dan kemajuan bagi tribe-nya.
Apa itu TRIBE?
Sekelompok orang yang terhubung dan dipimpin oleh seseorang. Tribe bisa perusahaan, komunitas, yayasan, bahkan grup di Facebook atau akun Twitter. Dan tribe, mau tidak mau, membutuhkan seorang pemimpin. Sekelompok orang yang berhobi sama tetapi tidak ada yang memimpin, itu hanya sekadar kerumunan, bukan tribe. Dan pemimpin membutuhkan tribe, atau ada istilah “True fans”, yaitu orang-orang yang peduli dengan apa yang kita lakukan. Peduli = mendukung = mengikuti.
Sebaiknya semua orang membaca buku ini, karena setiap manusia berada di kelompok. Begitulah sifat dasar manusia. Kita selalu berkelompok dengan orang-orang yang satu pandangan dengan kita, satu visi dan tujuan. Dengan membaca buku ini, kita akan mendapat banyak sekali pandangan mengenai menjadi seorang pemimpin.
Buku ini memang bukan buku how-to yang memuat langkah-langkah menjadi pemimpin. Buku ini tidak memiliki tutorial atau ritual yang harus dilakukan oleh pemimpin. Buku ini memberitahu dan mengingatkan hal-hal apa saja yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh pemimpin. Contohnya: pemimpin tidak takut pada perubahan, pemimpin adalah orang yang menentang status quo, menghantam kemandekan.
Seth Godin menulis buku ini dengan sistematika yang kurang jelas. Tak ada daftar isi pada buku ini. Kita tak mendapatkan bab-bab besar yang memuat sub-sub bab. Sesuatu yang cukup mengganggu di awal pembacaan, tetapi kita bisa memahami bahwa tujuan buku ini adalah sebagai pemberitahu (untuk pembacaan pertama kali) dan pengingat (untuk bacaan selanjutnya). Kita bisa membuka halaman mana saja suatu saat nanti dan membaca satu bagian. Setiap bagian ditulis pendek-pendek, judulnya dihitamkan, seperti caraku menulis resensi ini. Jadi, bagi yang membutuhkan inspirasi cepat mengenai kepemimpinan, bisa menikmati buku ini sambil minum kopi pagi hari.
Saturday, March 8, 2014
Thursday, March 6, 2014
2014/9 By The River Piedra I Sat Down and Wept (Paulo Coelho)
![]() |
| Sumber: Mars Dreams |
Penerjemah: Rosi L. Simamora
Desain: Dina Chandra
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: 6, Mei 2011
Teman Masa Kecil
Selama ini kehidupan Pilar di Zaragoza berjalan begitu saja, tanpa ada impian yang benar-benar membuatnya hidup. Satu hari, dia mendapat undangan dari tema masa kecilnya yang akan memberikan kuliah di Madrid. Sang teman itulah impiannya, sosok yang dia cintai semenjak kecil. Namun, mereka sama-sama memendam perasaan yang tak terungkapkan. Selama ini kabar cowok itu hanya Pilar dapatkan melalui surat.
Dan dia terkejut. Ternyata teman masa kecilnya itu seorang yang cukup terkenal. Hadirin kuliahnya sangat banyak. Orang-orang mengatakan cowok itu mampu melakukan mukjizat. Tentu saja Pilar bingung. Setelah sekian lama, orang yang ditemuinya sama sekali berbeda. Temannya calon imam, yang sedang belajar di seminari, dan membawa ajaran baru: bahwa Tuhan juga mempunyai sifat feminin.
Cowok itu mengajak Pilar ikut serta ke tujuannya selanjutnya, ke Bilbao, ke Prancis. Pilar ragu, dia punya kehidupan di tempat asalnya, dia harus kembali ke kampus dan belajar. Namun, selama ini Pilar sama sekali tidak pernah berpetualangan. Dia merasa tidak pernah membiarkan spontanitas memberikan warna pada hidupnya. Dengan bujukan temannya, akhirnya Pilar bersedia.
Namun, perjalanan itu menjadikan dilema dalam hati Pilar menjadi. Dia masih mencintai cowok itu dan sebaliknya. Mereka saling mengucapkan cinta. Hanya ada satu hal yang perlu mereka tuntaskan. Sang calon imam membawa misi dalam hidupnya. Dia bisa menerima misi itu demi umat manusia, tetapi ada hal yang perlu dikorbankan. Dan pengorbanan paling besar adalah melepaskan Pilar.
Pilar, setelah sekian lama membiarkan mimpi-mimpinya diam, bermaksud untuk memperjuangkan cintanya. Sayangnya tak semudah itu jika yang berada di tengah-tengah mereka adalah Tuhan dan keimanan. Pilar pun tidak ingin kembali ke kehidupan biasanya, dia ingin ikut bersama cowok itu demi melayani Dia dan semacamnya.
Sisi Feminin Tuhan
Jika Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan, bukankah berarti Tuhan memiliki dua sisi, yaitu maskulin dan feminin? Itulah salah satu pertanyaan yang diajukan dalam novel ini. Selain Bapa ilahi, juga ada Bunda Ilahi, yaitu Maria yang Dikandung tanpa Noda. Tuhan, melalui Maria, melahirkan anak-Nya, Yesus, untuk memberikan kebahagiaan bagi umat manusia. Kebahagiaan, itulah yang diinginkan Tuhan, tetapi manusia mempunyai sifat buruk untuk melukai sesamanya.
Itulah sebagian hal yang menjadi ajaran sang imam. Pilar mencoba memahaminya. Dia tidak terlalu relijius, bahkan dia tidak percaya lagi pada ajaran agama yang diwariskan dari orangtuanya (ajaran bahwa Tuhan adalah laki-laki). Bagi Pilar, hal-hal seperti itu tidak membawanya ke mana-mana. Namun, dia merasakan keimanan kembali setelah bersama-sama temannya itu kembali. Dia belajar mengenai kasih sayang, yang mereka yakini adalah perwujudan sifat feminin Tuhan.
Khas Paulo Coelho
Tulisan Paulo Coelho, menurutku, selalu terasa magis. Aku sudah membaca The Alchemist, Aleph, Veronica Decides to Die, dan buku ini. Ketiga-tiganya memberikan kesan yang sama bagiku. kalimat-kalimatnya seakan melayang, berada di atas kertas. Masalahnya, itu membuatku terkadang sulit untuk berada di dalam cerita. Aku perlu mengulang berkali-kali beberapa paragraf sebelumnya demi mengingat apa yang terjadi. Apakah karena terlalu banyak dialog ‘ceramah’ di dalamnya? Bisa jadi.
Paling tidak, tema yang berat bisa disajikan dalam balutan cerita cinta. Tentang ajaran agama, pengorbanan demi melayani Tuhan, dan cinta yang berada di tengah-tengah ketidakpastian. Bagi Pilar, sepertinya neraka berada di tengah-tengah surga. Artinya: agar manusia ingat kepedihan di saat mereka bahagia. Satu hal ada demi bisa memahami hal lain.
Tuesday, March 4, 2014
2014/8 For One More Day (Mitch Albom)
| Sumber: bacaanbzee |
Judul: For One More Day
Penulis: Mitch Albom
Penerjemah: Olivia Gerungan
Desain cover: Eduard Iwan Mangopang
Penerbit: Gramedia
Cetakan: 2, April 2008
Seseorang yang menyerah
“Biar kutebak. Kau ingin tahu kenapa aku mencoba bunuh diri.”
Dua kalimat di atas diucapkan oleh Chick Benetto, sang tokoh utama, kepada penulis novel ini. Novel yang ditulis seperti memoar, sedikit banyak membuat kita bertanya-tanya apakah cerita ini fiksi atau dari kejadian nyata. Namun, kisah fiksi tidak bisa seratus persen kebohongan belaka. Di dalamnya selalu ada kebenaran. Dan tentu saja buku ini fiksi. Kali ini aku membaca tentang seorang pria yang mencoba bunuh diri, dua kali, namun kembali ke kehidupan setelah melewatkan waktu bersama ibunya yang sudah meninggal.
Cerita bergulir dari usaha Chick bunuh diri dengan menabrakan diri ke truk di jalan tol, lalu dia menaiki menara air. Dia menjatuhkan diri, menghantam tanah. Namun, dia tidak berhasil menyelesaikan misi bunuh dirinya. Karena itu dia bangkit berjalan menuju rumah masa kecilnya. Di sana dia bertemu ibunya. Chick tidak percaya pada apa yang terjadi. Namun, semua terasa sangat nyata. Ibunya membuatkan sarapan, lalu mengajaknya pergi ke tiga tempat di kota mereka. Chick, dalam keterpanaannya, mengikuti ajakan ibunya, sang hantu.
Sepanjang perjalanan, dia mulai mengenang lagi masa-masa saat mereka masih satu keluarga. Saat dia harus memilih menjadi Anak Ibu atau Anak Ayah. Dia memilih menjadi Anak Ayah. Dia selalu bermain bisbol, berusaha menjadi anggota tim bisbol di sekolah, lalu mendapat beasiswa, dan menjadi pemain pro. Namun, saat masih sekolah, Ayah Chick pergi begitu saja. Ini membebani Chick. Dia tidak mengerti kenapa ayahnya pergi tanpa sempat berpamitan. Sedangkan ibunya tidak berniat untuk menyampaikan cerita sebenarnya. Chick remaja sungguh kebingungan.
Cerita Hantu
Begini kata-kata penulisnya:
“Ini sebuah cerita tentang keluarga dan, karena melibatkan sesosok hantu, kau bisa menyebutnya cerita hantu. Tapi semua keluarga adalah cerita hantu.”
Bagi Chick, sosok ibunya akan selalu dikenang. Chick juga menyimpan penyesalan karena tak sempat mengucapkan perpisahan. Saat ibunya pergi, dia tidak ada didekat beliau. Chick menyesali itu.
Dan dia diberikan kesempatan satu hari menghabiskan waktu bersama ibunya. Dalam satu hari yang singkat itu, ibunya menceritakan segala hal yang Chick belum tahu tentang keluarga mereka. Informasi-informasi itu membuat Chick semakin menyesali perbuatannya di masa lalu. Namun, seperti kata ibunya, Chick harus memaafkan seseorang—yaitu dirinya sendiri.
Perlahan-lahan, rahasia terbuka
Mitch Albom terkenal dengan novel Tuesday With Morris. Aku belum pernah membacanya, tetapi setelah membaca For One More Day, aku jadi ingin membaca kisah itu.
For One More Day sangat menarik. Novel ini ditulis dengan sederhana, tetapi menyimpan banyak cahaya di dalam kata-katanya. Konflik cerita disajikan di awal. Pembaca jadi tahu bagaimana dan tentang apa novel ini. Perlahan-lahan, penulis menyampaikan hubungan antartokoh, konflik mereka. Kemudian, dia menaburkan sedikit demi sedikit potongan kisah. Satu bagian kita mengenal tokoh begini, lalu di bagian lain kita mendapatkan hal yang membuat kita simpati pada tokoh. Semakin kita membalikkan halaman, rahasia semakin terbuka. Akhirnya kita tahu apa yang menjadi penyebab bunuh diri itu. Dan tentu saja mengenai kenapa ayah Chick pergi begitu saja.
Sebagai penulis, kita bisa belajar dari novel ini, yaitu membuat narasi yang mengalir dan apa adanya. Jangan berusaha keras untuk menciptakan suasana dramatis. Sampaikan cerita dengan jujur. Namun, berikan kisah sepotong demi sepotong. Buatlah pembaca mengenali dulu tokoh dan kejadian sebelum konflik utama terjadi. Inilah status quo.
Jangan menggantung pembaca dengan sengaja. Usahakan pembaca tidak sadar bahwa adegan itu memang dipotong agar mereka penasaran. Lalu, semakin menuju klimaks, bukalah rahasia besarnya. Tinggalkan pembaca dengan sebuah ending yang akan selalu diingatnya. Ending yang memuaskan. Walaupun ending novel ini, lagi-lagi, terasa seperti memoar/buku kisah nyata, tetap saja novel ini menarik untuk dibaca.
Labels:
adult,
America,
family,
Gramedia,
heartwarmer,
male author,
POV 1
Thursday, February 20, 2014
2014/4 Pay It Forward (Catherine Ryan Hyde)
![]() |
| Sumber: aksiku.com |
Penulis: Catherine Ryan Hyde
Penerjemah: Diniarty Pandia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: 1, Maret 2001
Sastra adalah propaganda
Salah satu cara untuk menyampaikan idemu adalah melalui sastra, dengan menulis fiksi. Sejarah telah banyak membuktikan ini cukup ampuh. Tanpa kekerasan. Tanpa pemaksaan. Cerita bisa memengaruhi orang, merasuk ke alam bawah sadar mereka. Coba diingat kembali, buku apa yang suka kamu baca waktu kecil? Tidak mengherankan salah satu atau beberapa sifatmu terpengaruh oleh watak tokoh dari buku tersebut. Bahkan ada penelitian yang menunjukkan perbedaan sebuah bangsa berdasarkan ciri khas dongeng anak-anak mereka.
Novel yang sudah difilmkan dengan judul yang sama, Pay It Forward, pada tahun 2000 ini bisa dibilang sebagai karya propaganda. Isinya terang-terangan menunjukkan sebuah ide untuk mengubah dunia. Pay It Forward, atau Membalas ke Yang Lain. Ide yang diawali sebuah tugas di kelas ilmu sosial SMP, oleh anak berumur tiga belas tahun.
Tugasnya sederhana:
PIKIRKAN SEBUAH IDE UNTUK MENGUBAH DUNIA. DAN LAKSANAKAN IDE ITU.
Trevor McKinney, siswa tersebut, melaksanakan tugasnya dengan sungguh-sungguh. Dia bisa saja tidak mengerjakannya karena tugas tersebut hanya untuk nilai ekstra. Namun, menjadi seorang anak kecil berarti tidak ada yang tidak mungkin untuk dilakukan. Sedangkan orang tua selalu melihat penghalang dalam mewujudkan impian mereka.
Idenya begini: A akan melakukan sebuah bantuan kebaikan kepada tiga orang. Kebaikan yang besar, sesuatu yang bisa mengubah hidup orang-orang tersebut, membuat mereka sangat bersyukur. Kemudian masing-masing akan membalas ke tiga orang lagi. Dari 3 menjadi 9 menjadi 27 menjadi 81. Seperti MLM tetapi lebih tulus.
Reuben St. Clair, guru ilmu sosialnya, terkesan dengan ide tersebut. Bahkan dialah salah satu orang yang ditolong Trevor. Reuben adalah veteran perang Vietnam, sebuah kecelakaan perang membuat sebelah mukanya terbakar, mata kirinya hilang. Dia memakai penutup mata ke mana-mana. Dia pun sudah terbiasa melihat pandangan aneh orang setiap pertama kali melihatnya.
Orang pertama yang dibantu oleh Trevor adalah Jerry, seorang tunawisma. Trevor memberinya uang untuk membeli pakaian dan melamar pekerjaan. Orang kedua adalah Ida Greenberg, nenek tua yang kesepian dan tidak dipedulikan anaknya. Trevor membantunya dalam merawat taman dan kucingnya, dua hal yang dicintai Mrs. Greenberg. Dan orang ketiga adalah Reuben. Trevor berusaha menjodohkan gurunya dengan ibunya sendiri, Arlene McKinney.
Namun, tidak ada yang berjalan dengan mulus. Jerry kembali ke kebiasaan lamanya berjudi tepat setelah gajian pertama diterima—yang langsung habis. Mrs. Greenberg meninggal dunia tanpa sempat membalas ke yang lain. Sedangkan Reuben tak serta merta bisa menerima hubungan dengan Arlene, karena dia masih memiliki ketakutan diakibatkan fisiknya dan segala macam.
Trevor hampir menyerah, hingga tanpa disadarinya, setiap orang masih punya nurani untuk menolong orang lain.
Kelompok marginal
Penulis berhasil membuat adegan-adegan dramatis namun tidak cengeng. Padahal dia sengaja menyorot kelompok-kelompok yang terpinggirkan dan memang patut ditolong, tetapi di dunia nyata mereka terkadang disalahartikan sebagai ‘kurang manusia’. Lihat saja orang-orang yang ditolong Trevor: tunawisma-pengangguran, orang tua kesepian, orang dengan keterbatasan fisik. Belum lagi tokoh-tokoh yang memperoleh efek pay it forward dari orang yang Trevor tolong: kasir remaja di toko sembako, gadis gemuk yang rapuh, anggota geng kelas teri, gay, dan waria. Bahkan keluarga Trevor sendiri tidak lengkap, ayahnya seorang tak bertanggung jawab yang pergi begitu saja tanpa kabar dan datang begitu saja tanpa merasa bersalah. Orang-orang bermasalah juga manusia, juga membutuhkan pertolongan. Niat baik Trevor hanya untuk mengubah dunia, sesuatu yang mungkin saja bisa tercapai.
Hal ini mengingatkanku pada pendapat bahwa adalah manusiawi jika manusia melakukan kejahatan. Kita membaca kisah Habil dan Qobil di kitab suci, atau kisah Adam dan Hawa memakan buah terlarang. Manusia memang berbuat salah. Malah aneh manusia melakukan kebaikan kepada sesamanya. Dan, ya, dalam novel ini gerakan Membalas ke Yang Lain diliput oleh media. Saat efeknya tersebar ke banyak penjuru semakin banyak berita kebaikan di koran. Seandainya saja memang hanya berita seseorang melakukan kebaikan kepada orang lain yang masuk berita. Seandainya~
Novel vs. Film
Aku tidak terlalu banyak membaca buku yang difilmkan dengan urutan menonton dahulu baru membaca bukunya. Namun, setiap kali mencoba selalu merasa buku lebih komplit dan memuaskan bagiku. Dengan keterbatasan masing-masing, buku jauh lebih unggul dalam segi menyampaikan cerita. Kita bisa diberi penguluran waktu, berdebar-debar menunggu kejadian selanjutnya, berkali-kali, saat membaca buku. Sedangkan film, kebanyakan masalah yang kompleks terihat begitu sederhana. Kurang terasa, seperti makan dengan sambal yang kurang pedas.
Namun, penggunaan sudut pandang yang berpindah-pindah, walaupun dijelaskan, cukup mengangguku, membuat aku agak kesulitan menyelesaikan lebih cepat. Jika saja buku ini disajikan tanpa ada POV 1 (dalam bentuk wawancara atau jurnal para tokoh) tiba-tiba muncul di POV 3, tentu proses pembacaan akan lebih lancar.
Buku ini sangat bagus untuk dibaca demi memahami apa itu pay it forward. Dan gerakan ini bisa dilakukan oleh siapa saja. Yup, beginilah hakikat sebuah karya fiksi, tugasnya untuk menyampaikan propaganda.
2014/3 Love Story (Erich Segal)
| Sumber: Hachette |
“Kenapa kau begitu yakin aku dari prep school?”Dan dialog paling kusuka saat Jenny menggoda Oliver:
“Tampangmu bodoh dan kaya,” jawabnya sambil mencopot kacamatanya.
“Kau keliru,” protesku. “Sebenarnya aku cerdas dan miskin.”
“Oh, jangan mengada-ada. Aku cerdas dan miskin.”
“Apa yang membuatmu begitu pintar?" Aku bertanya padanya.
“Aku takkan mau ditraktir minum kopi olehmu,” ia menjawab.
“Aku juga tak akan mau mengajakmu.”
“Itulah,” balasnya, “tandanya kau bodoh.”
“Jenny, kalau kau begitu yakin aku bodoh, kenapa kau memaksaku mengajakmu minum kopi?”
Ia menatap mataku dan tersenyum.
“Aku suka tubuhmu,” katanya.
Pertama terbit tahun 1970
Akhirnya aku bisa membaca versi novel cerita ini, setelah selama ini hanya menonton filmnya sekitar ... tidak kurang dari sepuluh kali mungkin. Haha. Pertama kali, saat masih ‘kecil’, seperti pernah kuceritakan di sini. Tetap saja cerita ini membuatku merasa seakan ada wallpaper taman bunga pada dinding kamarku. Kisah Oliver dan Jenny sudah menjadi cerita klasik tentang dua orang yang berasal dari status sosial berbeda. Ceritanya sentimental, memang, tetapi tidak terlalu berlebihan, menurutku.
Novelnya dibuat setelah filmnya selesai, dan terjual sebagai best seller internasional. Sedangkan filmnya sendiri memperoleh nominasi Oscar untuk beberapa kategoi termasuk “Best Writing, Screenplay Based on Material not Previously Published” untuk Erich Segal sendiri (kategori yang panjang juga, ya~). Dan film ini memenangkan kategori “Best Music, Original Score” untuk Francis Lai. Lagu “(Where do I Begin) Love Story” memang indah. Jadi, pengen dengar lagi, nih.
Oliver dan Jenny
Cerita dimulai dari Oliver dipermainkan Jenny saat cowok itu ingin meminjam buku di perpustakaan Radcliffe. Jenny, si petugas perpustakaan, dengan sentimennya pada mahasiswa Harvard, menyindir Oliver. Seharusnya mahasiswa Harvard punya perpustakaan yang lebih lengkap. Oliver berusaha berbaik-baik, tetapi sebagai orang bertemperamen buruk, dia hanya bisa membalas perkataan Jenny demi memperoleh buku itu. Lalu terjadi percakapan seperti kukutip di atas.
Cerita berlanjut. Mereka saling jatuh cinta, membuat mereka berubah, seperti orang jatuh cinta pada umumnya—ingin menjadi yang terbaik bagi pasangannya. Namun, tetap saja ada ketakutan-ketakutan akan kehilangan. Seperti Oliver, dia sering digoda teman sekamarnya karena sudah di-‘kuasai’ oleh Jenny. Atau seperti Jenny, diam-diam tidak memberitahu Oliver dia sudah mendapat beasiswa ke Paris.
Demi tetap bersama, Oliver melamar Jenny.
“Kau mau menikahiku?” tanya Jenny.
”Ya.”
“Kenapa?”
“Karena,” kataku
“Oh,” ujarnya, “itu alasan yang sangat bagus.”
Oliver mengajak Jenny ke rumah orangtuanya—yang tidak terlalu merestui hubungan mereka. Hal itu membuat Oliver marah. Ayahnya menganggap dia masih kecil dan tidak bisa menjaga diri sendiri. Ayahnya memang tipe diktator dan menganggap anak sebagai bawahan. Oliver memberontak dan berusaha tidak terikat lagi dengan orangtuanya. Maka, Oliver menikahi Jenny, tetapi mereka memang harus memulai kehidupan di apartemen yang jelek.
Perlahan-lahan, tanpa terlalu sentimental, cerita berlanjut pada perjuangan Oliver menyelesaikan pascasarjananya hingga mendapat pekerjaan yang layak. Mereka pindah ke New York, hidup lebih baik dengan rumah yang lapang. Sayangnya satu hal yang membuat cinta mereka perlu dihantui ketakutan akan perpisahan lagi: Jenny sakit parah.
Demi ada kesedihan, mari buat tokoh ceweknya mati -_-
Novel ini lebih seperti catatan kenangan atau seperti seorang teman yang bercerita padamu di suatu malam. Saat teman cowokmu tiba-tiba merasa sentimental setelah melihat bunga, dan dia ingin bercerita tentang cewek yang dia sukai dan mati. Dan kita tak mengharapkan dia bercerita dengan sangat apik seperti penulis yang hebat.
Kekuatan novel ini bukan di narasi, tetapi dialog. Erich Segal memang jago dalam urusan membuat dialog cinta terdengar lebih cerdas daripada sekadar percakapan cinta gombal atau klise. Contohnya seperti yang kukutip. Tonton juga filmnya, karena keseluruhan novel ini memang diambil dari filmnya. Hal ini bukti kalau tidak perlu mendayu-dayu untuk menyatakan cinta, tidak perlu berbunga-bunga untuk menyajikan cerita cinta yang indah, hanya perlu hubungan itu sendiri. Kejelasan dan kejernihan.
Kadang-kadang, penulis romance lokal abai untuk membangun hubungan antarkarakter dan terlalu sibuk untuk merangkai kata-kata yang seperti taman penjerat di jendela kamar: menghalangi pemandangan!
Hal yang cukup disayangkan dari cerita ini adalah adanya ketidaklogisan pada adegan Oliver diberitahu oleh dokter bahwa istrinya sakit leukimia. Sang dokter meminta Oliver untuk merahasiakan hal tersebut dari Jenny, karena hidup Jenny tidak lama lagi. Tentu saja hal ini aneh, kenapa mereka harus menyembunyikannya, bukannya langsung mengajak Jenny mengikuti terapi atau perawatan atau apa? Apalagi, tidak ada sebelumnya tanda-tanda (foreshadowing) bahwa Jenny menderita suatu penyakit. Inilah kelemahan dari novel ini, selain masih ada beberapa kebetulan atau tiba-tiba.
Walaupun begitu, saat membaca versi novelnya kita tidak perlu melihat keanehan lain seperti di film. Haha. Yaitu saat Jenny masih kelihatan cantik meskipun sudah sekarat, seperti di sinetron atau film murahan. Mungkin dimaklumkan karena film tahun 70-an.
Bagaimanapun juga, novel ini menarik dan bagus untuk dibaca pada bulan Februari seperti ini. Dengan membacanya kita akan tahu beberapa hal yang tidak terjelaskan oleh filmnya. Inilah keunggulan novel, ruangannya lebih dari cukup untuk memuat semua cerita dan alasan di balik tindakan tokoh. Sedangkan film, ada keterbatasan untuk mendapat informasi yang tidak bisa diverbalkan begitu saja.
Contohnya, di film ada adegan Jenny bermain bersama-sama anak-anak di pantai dan Oliver memperbaiki mesin. Saat menonton aku tahu Jenny mengajar di sekolah, tetapi ternyata itu adalah sebuah klub kapal persiar untuk anak-anak. Aku baru tahu setelah membaca bukunya. Jadi, membaca novel lebih baik jika kamu tertarik dengan cerita, dibanding film yang punya keterbatasan.
Subscribe to:
Posts (Atom)







