Showing posts with label spiritual. Show all posts
Showing posts with label spiritual. Show all posts

Sunday, June 1, 2014

2014/22 A Good and Happy Child (Justin Evans)

Sumber Gambar: yfrog.com
Judul Indonesia: Rahasia Bocah dari Masa Lalu
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah: Gita Yuliani K.
Editor: C. Donna Widjajanto
Desain sampul: Eduard Iwan Mangopang
Cetakan: I, Juli 2012

Ayah yang Ketakutan
George Davies menemui psikiaternya. Dia bercerita kalau dirinya adalah seorang ayah baru, tetapi dia tidak pernah menyentuh anaknya. Dia tak berani. Ada sesuatu yang menghalanginya untuk itu. Hal itu sudah membuat kesal istrinya, membuat mertuanya ingin ikut campur melalui sindiran-sindiran. Dia ingin sembuh, ingin kembali menyatukan keluarganya yang berada di ambang perceraian.

George mengaku dia pernah mendapatkan perawatan psikiater sebelumnya. Waktu dia 11 tahun. Saat mencoba mengingat, George tak sepenuhnya langsung menjelaskan semuanya. Kemudian, sang psikiater menyarankannya untuk memiliki jurnal. Dia harus mengisinya dengan apa pun, agar mereka sama-sama tahu jika ada masalah. Dan semua rahasia masa lalu tertulis dalam buku-buku jurnal tersebut. (Isi jurnalnya dibuat seperti cerita, bukan murni jurnal seperti diary).

Awalnya, jurnal itu berisi tentang kesedihan seorang bocah gemuk, berkacamata, tidak punya teman, dan korban bully di sekolah. Ayahnya baru saja meninggal setelah pulang dari luar negeri. Dia tidak menangis setelah tiga bulan kemudian, tetapi dia merasa hidupnya semakin menyebalkan. Selama ini dia merasa ayah atau ibunya tidak pernah benar-benar memperhatikannya.

Saat teman ayahnya, Tom Harris, bertandang ke rumah mereka, George merasakan sesuatu antara pria itu dengan ibunya. Seakan-akan ada yang terjadi, dan baru dilihatnya setelah sang ayah meninggal. Dia mencoba mengabaikan pemikiran tersebut. 

Hingga suatu malam dia melihat sebuah wajah di kamar mandi.

George Memanggilnya: Temanku
Dia tidak benar-benar nyata, George tahu itu. Awalnya Teman itu berupa wajah, lalu ketika tengah malam dia seakan utuh. Teman khayalan. Jenis teman yang bisa dimiliki oleh anak-anak. George mengatakan Teman mirip Huckleberry Finn, salah satu karakter ciptaan Mark Twain. Bocah itu dekil, berambut keemasan dan selalu kusut. Seringainya menyimpan banyak ide kenakalan. 

Dialah yang memberitahu George bahwa seseorang menginginkan kematian ayahnya. Dia juga yang membawa George ke taman kampus, dan menemui Tom Harris. George menyimpulkan bahwa Tom adalah orang yang membunuh ayahnya. Dan Teman menyuruh George menanyakan surat-surat ayahnya kepada Tom Harris, tetapi Tom tidak mau mengaku. Teman juga mengaku dia tahu bahwa ayah baptis George, Freddie, juga terlibat dalam hal ini. Dia juga mengatakan tentang surat. Karena tidak berhasil mendapatkan apa yang diinginkan, Teman melalukan hal lain.

George dibawa ke ayahnya. Sosok ayah dalam mimpi ini, mengaku kalau Tom dan Freddie membunuhnya. Dan George ingin membalas dendam. Tetapi, karena dia baru 11 tahun, dia tidak melalukannya sendirian. Dia malah tak sadar sadar melakukannya. Dia memutus kabel rem di mobil Tom Harris, menyebabkan pria itu kecelakaan dan kakinya patah. George dibawa ke psikiater untuk pengobatan. Dia disangka hanya sekadar anak nakal. Tetapi bukan, dia tidak melakukannya sendirian.

Semenjak itu, Tom beserta dua temannya—juga teman Ayah George—Freddie dan Clarissa, tahu bahwa sesuatu telah terjadi dengan George. Bocah itu didekati oleh setan, iblis, atau roh jahat dari neraka yang ingin membalas dendam. Mereka dendam karena ayah George sudah melakukan sesuatu yang dilanggar. Yaitu mencoba memasuki dunia setan untuk mencari kelemahan makhluk itu agar tidak mengganggu manusia lagi.

George cilik harus menghadapi masalah orang dewasa. Dia pun mulai mengenal ayahnya dari cerita teman-teman ayahnya. Bahwa ayahnya penganut agama yang taat, yang menulis buku tentang setan dan jin secara ilmiah, tetapi malah dijauhi oleh kalangan akademisi. Bahwa ayahnya pergi ke Honduras karena mendapat visi-visi di sana dia bisa meneliti lebih lanjut. Bahwa George memiliki kemampuan yang dulu dimiliki ayahnya.

Dan George harus menyingkirkan Teman agar tidak mengganggunya lagi. 

Fantasi, Horor, dan hmm, Relijius
Aku suka buku ini. Awalnya aku mengira ini cerita tentang teman khayalan saja. Ternyata cerita berlanjut ke kelompok relijius yang percaya bahwa iblis itu ada dan bisa menguasai manusia atau benda demi berbuat kerusakan. Ayah George meneliti dan menulis buku tentang itu, tetapi dia ingin melakukan dengan cukup ekstrim: dia ingin pergi langsung ke neraka untuk mencari tahu kelemahan iblis. Tentu saja iblis-iblis itu marah.

Novel ini benar-benar page turner. Aku merasa ingin terus mengetahui kelanjutannya. Menurutku, salah satu kekuatan novel ini adalah ia tidak berusaha untuk menahan-nahan rahasia secara berlebihan. Jika pembaca ingin tahu apa yang terjadi, kisahnya juga bergulir ke sana. Setelah didapatkan “pengetahuan baru” kita disuguhkan konsekuensinya, yaitu pertanyaan apa yang akan terjadi selanjutnya. 

(Inilah bedanya dengan sebuah buku penulis lokal yang kubaca di waktu bersamaan. Buku lain ini mencoba membuka rahasia, yang sebenarnya semua pembaca sudah menebak karena jelas-jelas kuncinya ada di judul, di akhir cerita. Seakan-akan pembaca bisa ditipu. Dan sayangnya, dia melakukan itu sekitar 3 kali.)

Kita kembali ke George. Aku merasa bisa memahami kenapa dia bersikap aneh di saat kecil, maupun dewasa. Dia diragukan oleh banyak orang. Dia selalu merasa tidak cocok berada di mana pun. Bahkan psikiaternya pun sempat menanyakan apakah cerita George di jurnal itu nyata, atau hanya khayalannya saja. 

Pada bagian George dengan psikiaternya saat dewasa, cerita menggunakan POV 1 sekaligus 2. Penulis menempatkan dirinya sebagai George (aku) dan pembaca sebagai Sang Psikiater (kamu). Asyiknya, menurutku, kita seperti dilibatkan dalam cerita.

Selain itu semua, novel ini benar-benar membuatku merinding, ketakutan, bisa merasakan betapa kesalnya punya orangtua yang tidak pengertian. Aku bisa merasakan emosi di dalam buku ini. Seakan-akan ceritanya memang nyata. Dan cerita ini juga mengingatkanku pada serial Supernatural. Hmm, kenapa cerita dengan tema pembasmi setan selalu memuat kisah diabaikan orangtua, ya? Aku jadi kepikiran.



Sekali lagi, aku suka buku ini. Dan aku cukup kaget kalau ini buku pertama Justin Evans, yang sehari-harinya bekerja sebagai eksekutif pengembang strategi dan bisnis. Keren!

Thursday, March 6, 2014

2014/9 By The River Piedra I Sat Down and Wept (Paulo Coelho)

Sumber: Mars Dreams
Penulis: Paulo Coelho
Penerjemah: Rosi L. Simamora
Desain: Dina Chandra
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: 6, Mei 2011

Teman Masa Kecil
Selama ini kehidupan Pilar di Zaragoza berjalan begitu saja, tanpa ada impian yang benar-benar membuatnya hidup. Satu hari, dia mendapat undangan dari tema masa kecilnya yang akan memberikan kuliah di Madrid. Sang teman itulah impiannya, sosok yang dia cintai semenjak kecil. Namun, mereka sama-sama memendam perasaan yang tak terungkapkan. Selama ini kabar cowok itu hanya Pilar dapatkan melalui surat.

Dan dia terkejut. Ternyata teman masa kecilnya itu seorang yang cukup terkenal. Hadirin kuliahnya sangat banyak. Orang-orang mengatakan cowok itu mampu melakukan mukjizat. Tentu saja Pilar bingung. Setelah sekian lama, orang yang ditemuinya sama sekali berbeda. Temannya calon imam, yang sedang belajar di seminari, dan membawa ajaran baru: bahwa Tuhan juga mempunyai sifat feminin.

Cowok itu mengajak Pilar ikut serta ke tujuannya selanjutnya, ke Bilbao, ke Prancis. Pilar ragu, dia punya kehidupan di tempat asalnya, dia harus kembali ke kampus dan belajar. Namun, selama ini Pilar sama sekali tidak pernah berpetualangan. Dia merasa tidak pernah membiarkan spontanitas memberikan warna pada hidupnya. Dengan bujukan temannya, akhirnya Pilar bersedia. 

Namun, perjalanan itu menjadikan dilema dalam hati Pilar menjadi. Dia masih mencintai cowok itu dan sebaliknya. Mereka saling mengucapkan cinta. Hanya ada satu hal yang perlu mereka tuntaskan. Sang calon imam membawa misi dalam hidupnya. Dia bisa menerima misi itu demi umat manusia, tetapi ada hal yang perlu dikorbankan. Dan pengorbanan paling besar adalah melepaskan Pilar.

Pilar, setelah sekian lama membiarkan mimpi-mimpinya diam, bermaksud untuk memperjuangkan cintanya. Sayangnya tak semudah itu jika yang berada di tengah-tengah mereka adalah Tuhan dan keimanan. Pilar pun tidak ingin kembali ke kehidupan biasanya, dia ingin ikut bersama cowok itu demi melayani Dia dan semacamnya.

Sisi Feminin Tuhan
Jika Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan, bukankah berarti Tuhan memiliki dua sisi, yaitu maskulin dan feminin? Itulah salah satu pertanyaan yang diajukan dalam novel ini. Selain Bapa ilahi, juga ada Bunda Ilahi, yaitu Maria yang Dikandung tanpa Noda. Tuhan, melalui Maria, melahirkan anak-Nya, Yesus, untuk memberikan kebahagiaan bagi umat manusia. Kebahagiaan, itulah yang diinginkan Tuhan, tetapi manusia mempunyai sifat buruk untuk melukai sesamanya.

Itulah sebagian hal yang menjadi ajaran sang imam. Pilar mencoba memahaminya. Dia tidak terlalu relijius, bahkan dia tidak percaya lagi pada ajaran agama yang diwariskan dari orangtuanya (ajaran bahwa Tuhan adalah laki-laki). Bagi Pilar, hal-hal seperti itu tidak membawanya ke mana-mana. Namun, dia merasakan keimanan kembali setelah bersama-sama temannya itu kembali. Dia belajar mengenai kasih sayang, yang mereka yakini adalah perwujudan sifat feminin Tuhan.

Khas Paulo Coelho
Tulisan Paulo Coelho, menurutku, selalu terasa magis. Aku sudah membaca The Alchemist, Aleph, Veronica Decides to Die, dan buku ini. Ketiga-tiganya memberikan kesan yang sama bagiku. kalimat-kalimatnya seakan melayang, berada di atas kertas. Masalahnya, itu membuatku terkadang sulit untuk berada di dalam cerita. Aku perlu mengulang berkali-kali beberapa paragraf sebelumnya demi mengingat apa yang terjadi. Apakah karena terlalu banyak dialog ‘ceramah’ di dalamnya? Bisa jadi.

Paling tidak, tema yang berat bisa disajikan dalam balutan cerita cinta. Tentang ajaran agama, pengorbanan demi melayani Tuhan, dan cinta yang berada di tengah-tengah ketidakpastian. Bagi Pilar, sepertinya neraka berada di tengah-tengah surga. Artinya: agar manusia ingat kepedihan di saat mereka bahagia. Satu hal ada demi bisa memahami hal lain.