Showing posts with label male author. Show all posts
Showing posts with label male author. Show all posts
Saturday, July 26, 2014
Saturday, July 19, 2014
Saturday, July 12, 2014
Friday, June 27, 2014
Friday, June 20, 2014
2014/25 Beatrice and Virgil (Yann Martle)
Labels:
adult,
British,
Canada,
literature,
male author,
POV 3,
Ufuk
Wednesday, June 11, 2014
Sunday, June 1, 2014
2014/22 A Good and Happy Child (Justin Evans)
![]() |
| Sumber Gambar: yfrog.com |
Judul Indonesia: Rahasia Bocah dari Masa Lalu
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah: Gita Yuliani K.
Editor: C. Donna Widjajanto
Desain sampul: Eduard Iwan Mangopang
Cetakan: I, Juli 2012
Ayah yang Ketakutan
George Davies menemui psikiaternya. Dia bercerita kalau dirinya adalah seorang ayah baru, tetapi dia tidak pernah menyentuh anaknya. Dia tak berani. Ada sesuatu yang menghalanginya untuk itu. Hal itu sudah membuat kesal istrinya, membuat mertuanya ingin ikut campur melalui sindiran-sindiran. Dia ingin sembuh, ingin kembali menyatukan keluarganya yang berada di ambang perceraian.
George mengaku dia pernah mendapatkan perawatan psikiater sebelumnya. Waktu dia 11 tahun. Saat mencoba mengingat, George tak sepenuhnya langsung menjelaskan semuanya. Kemudian, sang psikiater menyarankannya untuk memiliki jurnal. Dia harus mengisinya dengan apa pun, agar mereka sama-sama tahu jika ada masalah. Dan semua rahasia masa lalu tertulis dalam buku-buku jurnal tersebut. (Isi jurnalnya dibuat seperti cerita, bukan murni jurnal seperti diary).
Awalnya, jurnal itu berisi tentang kesedihan seorang bocah gemuk, berkacamata, tidak punya teman, dan korban bully di sekolah. Ayahnya baru saja meninggal setelah pulang dari luar negeri. Dia tidak menangis setelah tiga bulan kemudian, tetapi dia merasa hidupnya semakin menyebalkan. Selama ini dia merasa ayah atau ibunya tidak pernah benar-benar memperhatikannya.
Saat teman ayahnya, Tom Harris, bertandang ke rumah mereka, George merasakan sesuatu antara pria itu dengan ibunya. Seakan-akan ada yang terjadi, dan baru dilihatnya setelah sang ayah meninggal. Dia mencoba mengabaikan pemikiran tersebut.
Hingga suatu malam dia melihat sebuah wajah di kamar mandi.
George Memanggilnya: Temanku
Dia tidak benar-benar nyata, George tahu itu. Awalnya Teman itu berupa wajah, lalu ketika tengah malam dia seakan utuh. Teman khayalan. Jenis teman yang bisa dimiliki oleh anak-anak. George mengatakan Teman mirip Huckleberry Finn, salah satu karakter ciptaan Mark Twain. Bocah itu dekil, berambut keemasan dan selalu kusut. Seringainya menyimpan banyak ide kenakalan.
Dialah yang memberitahu George bahwa seseorang menginginkan kematian ayahnya. Dia juga yang membawa George ke taman kampus, dan menemui Tom Harris. George menyimpulkan bahwa Tom adalah orang yang membunuh ayahnya. Dan Teman menyuruh George menanyakan surat-surat ayahnya kepada Tom Harris, tetapi Tom tidak mau mengaku. Teman juga mengaku dia tahu bahwa ayah baptis George, Freddie, juga terlibat dalam hal ini. Dia juga mengatakan tentang surat. Karena tidak berhasil mendapatkan apa yang diinginkan, Teman melalukan hal lain.
George dibawa ke ayahnya. Sosok ayah dalam mimpi ini, mengaku kalau Tom dan Freddie membunuhnya. Dan George ingin membalas dendam. Tetapi, karena dia baru 11 tahun, dia tidak melalukannya sendirian. Dia malah tak sadar sadar melakukannya. Dia memutus kabel rem di mobil Tom Harris, menyebabkan pria itu kecelakaan dan kakinya patah. George dibawa ke psikiater untuk pengobatan. Dia disangka hanya sekadar anak nakal. Tetapi bukan, dia tidak melakukannya sendirian.
Semenjak itu, Tom beserta dua temannya—juga teman Ayah George—Freddie dan Clarissa, tahu bahwa sesuatu telah terjadi dengan George. Bocah itu didekati oleh setan, iblis, atau roh jahat dari neraka yang ingin membalas dendam. Mereka dendam karena ayah George sudah melakukan sesuatu yang dilanggar. Yaitu mencoba memasuki dunia setan untuk mencari kelemahan makhluk itu agar tidak mengganggu manusia lagi.
George cilik harus menghadapi masalah orang dewasa. Dia pun mulai mengenal ayahnya dari cerita teman-teman ayahnya. Bahwa ayahnya penganut agama yang taat, yang menulis buku tentang setan dan jin secara ilmiah, tetapi malah dijauhi oleh kalangan akademisi. Bahwa ayahnya pergi ke Honduras karena mendapat visi-visi di sana dia bisa meneliti lebih lanjut. Bahwa George memiliki kemampuan yang dulu dimiliki ayahnya.
Dan George harus menyingkirkan Teman agar tidak mengganggunya lagi.
Fantasi, Horor, dan hmm, Relijius
Aku suka buku ini. Awalnya aku mengira ini cerita tentang teman khayalan saja. Ternyata cerita berlanjut ke kelompok relijius yang percaya bahwa iblis itu ada dan bisa menguasai manusia atau benda demi berbuat kerusakan. Ayah George meneliti dan menulis buku tentang itu, tetapi dia ingin melakukan dengan cukup ekstrim: dia ingin pergi langsung ke neraka untuk mencari tahu kelemahan iblis. Tentu saja iblis-iblis itu marah.
Novel ini benar-benar page turner. Aku merasa ingin terus mengetahui kelanjutannya. Menurutku, salah satu kekuatan novel ini adalah ia tidak berusaha untuk menahan-nahan rahasia secara berlebihan. Jika pembaca ingin tahu apa yang terjadi, kisahnya juga bergulir ke sana. Setelah didapatkan “pengetahuan baru” kita disuguhkan konsekuensinya, yaitu pertanyaan apa yang akan terjadi selanjutnya.
(Inilah bedanya dengan sebuah buku penulis lokal yang kubaca di waktu bersamaan. Buku lain ini mencoba membuka rahasia, yang sebenarnya semua pembaca sudah menebak karena jelas-jelas kuncinya ada di judul, di akhir cerita. Seakan-akan pembaca bisa ditipu. Dan sayangnya, dia melakukan itu sekitar 3 kali.)
Kita kembali ke George. Aku merasa bisa memahami kenapa dia bersikap aneh di saat kecil, maupun dewasa. Dia diragukan oleh banyak orang. Dia selalu merasa tidak cocok berada di mana pun. Bahkan psikiaternya pun sempat menanyakan apakah cerita George di jurnal itu nyata, atau hanya khayalannya saja.
Pada bagian George dengan psikiaternya saat dewasa, cerita menggunakan POV 1 sekaligus 2. Penulis menempatkan dirinya sebagai George (aku) dan pembaca sebagai Sang Psikiater (kamu). Asyiknya, menurutku, kita seperti dilibatkan dalam cerita.
Selain itu semua, novel ini benar-benar membuatku merinding, ketakutan, bisa merasakan betapa kesalnya punya orangtua yang tidak pengertian. Aku bisa merasakan emosi di dalam buku ini. Seakan-akan ceritanya memang nyata. Dan cerita ini juga mengingatkanku pada serial Supernatural. Hmm, kenapa cerita dengan tema pembasmi setan selalu memuat kisah diabaikan orangtua, ya? Aku jadi kepikiran.
Sekali lagi, aku suka buku ini. Dan aku cukup kaget kalau ini buku pertama Justin Evans, yang sehari-harinya bekerja sebagai eksekutif pengembang strategi dan bisnis. Keren!
Labels:
America,
children,
family,
fantasy,
Gramedia,
horror,
male author,
POV 1,
POV 2,
spiritual,
varied POV
Tuesday, May 20, 2014
2014/20 Moshidora (Natsumi Iwasaki)
![]() |
| Sumber Gambar: Craneanime |
Judul Terjemahan: Seandainya Manajer Putri Tim Bisbol SMA Membaca Buku “Manajemen” karya Drucker
Penulis: Natsumi Iwasaki
Penerjemah: Ellnovianty Nine dan Kanti
Penyelaras Aksara: Emi Kusmiati
Desain Sampul: Agung Wulandana
Penerbit: Qanita
Cetakan: I, Maret 2014
Manajer Putri Tim Bisbol dan Buku “Manajemen”
Minami Kawashima menggantikan temannya, Yuuki Miyata—yang menderita suatu penyakit hingga harus dirawat inap sepanjang tahun—menjadi salah satu manajer tim bisbol SMA Hodo di Tokyo. Dengan sifatnya yang tegas dan penuh percaya diri, Minami akan membawa tim bisbol mereka ke turnamen Koshien. Sayangnya, semua kelihatan mustahil karena tim bisbol mereka sama sekali tidak punya kemampuan yang bisa membawa mereka mencapai prestasi setinggi itu. Para anggota pun tidak serta merta setuju dengan target Minami.
Tidak mau setengah-setengah, Minami pergi ke toko buku demi mencari buku tentang menjadi manajer tim bisbol. Penjaga toko memberikan kopian buku Peter F. Drucker, berjudul Manajemen versi intisari, buku yang paling bayak dibaca oleh orang sedunia. Ternyata buku itu adalah buku manajemen secara umum, bukan khusus bisbol. Minami juga kaget saat tahu buku ini dipakai oleh mahasiswa di kampus, bukannya buku pegangan untuk siswi SMA.
Namun, Minami tidak mau menyia-nyiakan 1200 Yen dengan merasa menyesal telah membelinya. Dia yakin buku ini akan membawa targetnya terwujud. Dengan bantuan Yuuki, dia mendiskusikan hasil bacaannya. Tentang apa itu manajer, apa itu manajemen, apa itu organisasi. Tentang sumber daya manusia, tentang inovasi, hingga utamanya tentang integritas: hal yang wajib dimiliki oleh seorang manajer.
Buku ini wajib dibaca oleh para manajer!
Hmm, Buku tentang Buku?
![]() |
| Poster Anime Sumber Gambar: Kaori Nusantara |
Tentu saja banyak kutipan dari buku Manajemen karya Drucker ini. Setelah menonton versi anime di tahun 2011, kemudian live action movie di tahun 2012, akhirnya aku berkesempatan membaca bukunya di tahun 2014. Keuntungannya punya buku ini, aku bisa membaca berkali-kali kutipan yang Minami ambil dari buku tersebut.
Novel ini terbagi atas 8 bagian utama. Setiap bagian membahas hal yang sepertinya menjadi bagian dalam buku Manajemen juga. Minami secara bertahap melewati konflik, menuntutnya untuk menyelesaikan dengan bantuan Drucker. Pertama-tama, tentang bagaimana menjadi seorang manajer. Apa tugas manajer. Ringkasnya, manajer adalah sosok yang melakukan manajemen. Dan hal yang paling penting adalah “integritas”.
Dia hanya mempertimbangkan “apa” yang benar, bukan “siapa” yang benar. (halaman 21)
Lalu, mereka mencoba mendefiniskan organisasi mereka. Tim Bisbol itu apa? Jawaban yang jelas cenderung salah, kata Drucker. Contohnya penerbit menerbitkan buku, restoran mengantarkan makanan. Itu tidak memberikan jawaban tepat. Dalam novel ini, Minami mendapatkan jawaban bahwa definisi tim mereka adalah “membuat pelanggan terharu” yaitu saat pertandingan mereka bisa membuat semua orang terharu. Dan siapa saja pelanggan? Nyatanya, selain penonton dan semua yang terkait dengan tim bisbol sekolah, para pemain pun adalah pelanggan. Mereka harus menjalankan tugas untuk “membuat keharuan”.
Mengenai marketing, bukan sekadar masalah penjualan produk saja. Namun, lebih kepada pelanggan. Apa yang mereka butuhkan, bukan apa yang bisa mereka beli dari produk kita. Karena itu, Minami dan Yuuki mengadakan wawancara untuk mengetahui apa saja pendapat dan aspirasi para pemain agar mereka paham kebutuhan pelanggan. (Kalau di perusahaan, karyawan juga bagian dari pelanggan, bukan, ya?)
![]() |
| Sampul Buku versi Jepang Sumber Gambar: Damu Kun Blog |
Hal yang baru aku temui di dalam cerita ini (baik lewat anime, film, ataupun buku) adalah tentang salah satu tugas manajer: menjadi ahli bahasa/penerjemah antara “ahli” dengan keseluruhan organisasi. Kalau di anime, kita diberikan simulasi adegan begini. Pak Pelatih (ahli/bos) menjelaskan sesuatu agar dipahami anggota tim kepada manajer, kemudian manajer menyampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami kepada para anggota (karyawan). Jadi, masalah “komunikasi” antara atasan dengan bawahan adalah tugas utama seorang manajer! Dan aneh sekali kalau ada manajer yang merasa dirinya sama-sama bingung dengan keinginan bos, seperti karyawan. Hohoho.
Wah, sebenarnya banyak lagi yang ingin aku diskusikan. Manajemen adalah salah satu hal yang membuatku bergairah untuk membahasnya, di samping dunia buku (terutama novel). Tampaknya gabungan “manajemen dan novel” membuatku bagai mendapatkan harta karun. Dan, ya, buku ini bukan sekadar membahas tim bisbol. Tentu saja ada drama yang terjadi, ada hiburan untuk pembaca, dan kesedihan yang biasa muncul di cerita populer dari negeri Asia Timur.
J-Romance? dan AKB48
Anehnya, Qanita melabeli buku ini dengan ”J-Romance”, menyesatkan. Karena romance kan cerita romantis. Sepertinya ini masalah komunikasi dan marketing. Pembeli buku kita masing dianggap gampang ditipu dengan memberikan label romance. Ini menyebalkan. Seakan-akan buku tanpa kata “romance” tidak akan dilirik pembeli. Seakan pembaca novel di Indonesia tidak bisa menerima hal yang lebih rumit daripada romance.
Keganjilan lain adalah penggunaan “saya” dan “aku” dalam dialog para tokoh. Kesan pertama adalah inkonsistensi, namun akhirnya aku ingat kalau di Jepang ada bahasa formal dan santai. Tapi, tetap saja aneh jika antara anak SMA mereka bercakap-cakap dengan “saya”. Awalnya aku merasa ini mengganggu, tetapi jadi terbiasa. Sebaiknya sih, tidak perlu menyamakan formal/tidaknya percakapan, karena ini kan terjemahan.
![]() |
| Poster Film Sumber Gambar: Asia Torrent |
Sayangnya, kalau dari teknik menulis novel, berdasarkan kebiasaan Amerika, novel ini tidak istimewa. Telling-nya keterlaluan, dan aku biasanya kewalahan membaca buku super-telling begini. Rasanya dibodoh-bodohi. Rasanya seperti menonton sinetron dengan sinematografi memusingkan. Untung saja tema dan ceritanya menarik.
Sekarang kita membahas AKB48, hmm, selain film Moshidora dibintangi Atsuko Maeda dan Minami Minegishi, ternyata sang penulis pernah bekerja jadi produser di AKB48! Dia mengakui di wawancara akhir buku. Dia bilang kalau para anggota AKB48 adalah inspirasi para karakter Moshidora. Kalau berdasarkan namanya, aku menebak Minami Kawashima adalah Minami Takahasi dan Yuuki Miyata adalah Yuuki Kashiwagi. Karakter mereka kelihatan, Minami tegas dan Yuuki lembut. Walaupun bukan mereka berdua yang memerankan karakter-karakter tersebut di film.
Oh, ya, baru kusadari gabungan “manajemen + novel + AKB48” dalam buku ini. Wah, aku mendapatkan hadiah utama 3 in 1 yang sepertinya mustahil tetapi benar-benar ada di dunia nyata. Hahaha. Aku bersyukur novel ini ada.
Sunday, April 6, 2014
Sunday, March 30, 2014
Tuesday, March 18, 2014
2014/11 Tribe: Andalah Pemimpin yang Kami Cari (Seth Godin)
| Sumber: motherwifeme |
Penulis: Seth Godin
Penerjemah: Tim Publishing One
Penyunting: Antonius Hermawan Susilo
Penerbit: Publishing One
Cetakan: I, 2009
Sekelompok Fresh Graduate
Suatu hari, kita menjadi fresh graduate yang diterima perusahaan. Kita bersama-sama merantau dari kampung ke kota besar demi meniti karier. Di bulan-bulan awal memasuki perusahaan, kita begitu antusias. Perusahaan inilah tempat belajar sekaligus mempraktekkan apa yang pernah kita peroleh di bangku kuliah—walaupun katanya apa yang ada di kuliahan berbeda dengan di lapangan (Hmm, what a stupid statement, I think) —selama empat lima tahun. Pertemuan dengan teman-teman seangkatan adalah saat untuk ‘berbangga’ dengan perusahaan kita masing-masing.
Lalu, setelah beberapa bulan semua berubah. Curhat antusiasme berubah menjadi curhat kekesalan terhadap manajemen dan kinerja perusahaan. Idealisme para mantan mahasiswa ini terkoyak, membebani pikiran mereka, dan membuat mereka menginginkan perubahan. Tetapi curhatnya hampir sama setiap kali bertemu. Sehingga sampai pada pertanyaan: “Kenapa tidak resign saja?”
Dan dia memilih resign.
Dan dia kalah.
Dia tidak menjdi agen perubahan. Ya, agen perubahan, frasa yang sering dilantangkan para mahasiswa. Namun, frasa ini menjadi terlalu sempit karena bagi mereka hanya perubahan diperlukan dalam bidang politik. Padahal masih banyak kelompok-kelompok lain yang butuh diubah, termasuk perusahaan yang bermanajemen dan berkinerja buruk itu.
Jika aku merujuk pada buku yang ditulis oleh pakar marketing ini, Seth Godin, dipastikan teman kita itu tidak menyadari bahwa dia bisa memimpin untuk perubahan. Tidak peduli apakah dia hanya seorang entry level. Dia dibutuhkan untuk melakukan perubahan tersebut. Karena salah satu ciri-ciri pemimpin adalah merasakan kemandekan yang membutuhkan perubahan atau inovasi hingga kelompok menjadi maju dan dinamis.
Jika kamu merasakan sesuatu hal yang butuh diperbaiki, kamu bisa menjadi pemimpin untuk memulai gerakan. Karena kamu dibutuhkan untuk perubahan tersebut.
Leadership
Tidak ada kaitannya kepemimpinan dengan senioritas. Sama sekali tidak ada. Kepemimpinan pun bukan bawaan dari lahir. Karismatik bukan syarat menjadi pemimpin, walaupun pemimpin pasti memiliki karisma. Tidak ada gen khusus pemimpin, atau pun ciri khas bentuk wajah dan sebagainya. Pemimpin bisa tua, muda, kaya, miskin, ekstrovert, maupun introvert. Hanya ada satu persamaan para pemimpin ini: mereka memutuskan untuk memimpin.
Oh, ya, kepemimpinan juga bukan tergantung pada jabatan. Bahkan posisi manajer bukan jaminan seseorang menjadi pemimpin.
Terlalu ambisius dan seakan haus kekuasaan? Tidak, yang diinginkan oleh pemimpin bukanlah ketenaran atau kekuasaan. Pemimpin menginginkan perubahan dan kemajuan bagi tribe-nya.
Apa itu TRIBE?
Sekelompok orang yang terhubung dan dipimpin oleh seseorang. Tribe bisa perusahaan, komunitas, yayasan, bahkan grup di Facebook atau akun Twitter. Dan tribe, mau tidak mau, membutuhkan seorang pemimpin. Sekelompok orang yang berhobi sama tetapi tidak ada yang memimpin, itu hanya sekadar kerumunan, bukan tribe. Dan pemimpin membutuhkan tribe, atau ada istilah “True fans”, yaitu orang-orang yang peduli dengan apa yang kita lakukan. Peduli = mendukung = mengikuti.
Sebaiknya semua orang membaca buku ini, karena setiap manusia berada di kelompok. Begitulah sifat dasar manusia. Kita selalu berkelompok dengan orang-orang yang satu pandangan dengan kita, satu visi dan tujuan. Dengan membaca buku ini, kita akan mendapat banyak sekali pandangan mengenai menjadi seorang pemimpin.
Buku ini memang bukan buku how-to yang memuat langkah-langkah menjadi pemimpin. Buku ini tidak memiliki tutorial atau ritual yang harus dilakukan oleh pemimpin. Buku ini memberitahu dan mengingatkan hal-hal apa saja yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh pemimpin. Contohnya: pemimpin tidak takut pada perubahan, pemimpin adalah orang yang menentang status quo, menghantam kemandekan.
Seth Godin menulis buku ini dengan sistematika yang kurang jelas. Tak ada daftar isi pada buku ini. Kita tak mendapatkan bab-bab besar yang memuat sub-sub bab. Sesuatu yang cukup mengganggu di awal pembacaan, tetapi kita bisa memahami bahwa tujuan buku ini adalah sebagai pemberitahu (untuk pembacaan pertama kali) dan pengingat (untuk bacaan selanjutnya). Kita bisa membuka halaman mana saja suatu saat nanti dan membaca satu bagian. Setiap bagian ditulis pendek-pendek, judulnya dihitamkan, seperti caraku menulis resensi ini. Jadi, bagi yang membutuhkan inspirasi cepat mengenai kepemimpinan, bisa menikmati buku ini sambil minum kopi pagi hari.
Thursday, March 6, 2014
2014/9 By The River Piedra I Sat Down and Wept (Paulo Coelho)
![]() |
| Sumber: Mars Dreams |
Penerjemah: Rosi L. Simamora
Desain: Dina Chandra
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: 6, Mei 2011
Teman Masa Kecil
Selama ini kehidupan Pilar di Zaragoza berjalan begitu saja, tanpa ada impian yang benar-benar membuatnya hidup. Satu hari, dia mendapat undangan dari tema masa kecilnya yang akan memberikan kuliah di Madrid. Sang teman itulah impiannya, sosok yang dia cintai semenjak kecil. Namun, mereka sama-sama memendam perasaan yang tak terungkapkan. Selama ini kabar cowok itu hanya Pilar dapatkan melalui surat.
Dan dia terkejut. Ternyata teman masa kecilnya itu seorang yang cukup terkenal. Hadirin kuliahnya sangat banyak. Orang-orang mengatakan cowok itu mampu melakukan mukjizat. Tentu saja Pilar bingung. Setelah sekian lama, orang yang ditemuinya sama sekali berbeda. Temannya calon imam, yang sedang belajar di seminari, dan membawa ajaran baru: bahwa Tuhan juga mempunyai sifat feminin.
Cowok itu mengajak Pilar ikut serta ke tujuannya selanjutnya, ke Bilbao, ke Prancis. Pilar ragu, dia punya kehidupan di tempat asalnya, dia harus kembali ke kampus dan belajar. Namun, selama ini Pilar sama sekali tidak pernah berpetualangan. Dia merasa tidak pernah membiarkan spontanitas memberikan warna pada hidupnya. Dengan bujukan temannya, akhirnya Pilar bersedia.
Namun, perjalanan itu menjadikan dilema dalam hati Pilar menjadi. Dia masih mencintai cowok itu dan sebaliknya. Mereka saling mengucapkan cinta. Hanya ada satu hal yang perlu mereka tuntaskan. Sang calon imam membawa misi dalam hidupnya. Dia bisa menerima misi itu demi umat manusia, tetapi ada hal yang perlu dikorbankan. Dan pengorbanan paling besar adalah melepaskan Pilar.
Pilar, setelah sekian lama membiarkan mimpi-mimpinya diam, bermaksud untuk memperjuangkan cintanya. Sayangnya tak semudah itu jika yang berada di tengah-tengah mereka adalah Tuhan dan keimanan. Pilar pun tidak ingin kembali ke kehidupan biasanya, dia ingin ikut bersama cowok itu demi melayani Dia dan semacamnya.
Sisi Feminin Tuhan
Jika Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan, bukankah berarti Tuhan memiliki dua sisi, yaitu maskulin dan feminin? Itulah salah satu pertanyaan yang diajukan dalam novel ini. Selain Bapa ilahi, juga ada Bunda Ilahi, yaitu Maria yang Dikandung tanpa Noda. Tuhan, melalui Maria, melahirkan anak-Nya, Yesus, untuk memberikan kebahagiaan bagi umat manusia. Kebahagiaan, itulah yang diinginkan Tuhan, tetapi manusia mempunyai sifat buruk untuk melukai sesamanya.
Itulah sebagian hal yang menjadi ajaran sang imam. Pilar mencoba memahaminya. Dia tidak terlalu relijius, bahkan dia tidak percaya lagi pada ajaran agama yang diwariskan dari orangtuanya (ajaran bahwa Tuhan adalah laki-laki). Bagi Pilar, hal-hal seperti itu tidak membawanya ke mana-mana. Namun, dia merasakan keimanan kembali setelah bersama-sama temannya itu kembali. Dia belajar mengenai kasih sayang, yang mereka yakini adalah perwujudan sifat feminin Tuhan.
Khas Paulo Coelho
Tulisan Paulo Coelho, menurutku, selalu terasa magis. Aku sudah membaca The Alchemist, Aleph, Veronica Decides to Die, dan buku ini. Ketiga-tiganya memberikan kesan yang sama bagiku. kalimat-kalimatnya seakan melayang, berada di atas kertas. Masalahnya, itu membuatku terkadang sulit untuk berada di dalam cerita. Aku perlu mengulang berkali-kali beberapa paragraf sebelumnya demi mengingat apa yang terjadi. Apakah karena terlalu banyak dialog ‘ceramah’ di dalamnya? Bisa jadi.
Paling tidak, tema yang berat bisa disajikan dalam balutan cerita cinta. Tentang ajaran agama, pengorbanan demi melayani Tuhan, dan cinta yang berada di tengah-tengah ketidakpastian. Bagi Pilar, sepertinya neraka berada di tengah-tengah surga. Artinya: agar manusia ingat kepedihan di saat mereka bahagia. Satu hal ada demi bisa memahami hal lain.
Tuesday, March 4, 2014
2014/8 For One More Day (Mitch Albom)
| Sumber: bacaanbzee |
Judul: For One More Day
Penulis: Mitch Albom
Penerjemah: Olivia Gerungan
Desain cover: Eduard Iwan Mangopang
Penerbit: Gramedia
Cetakan: 2, April 2008
Seseorang yang menyerah
“Biar kutebak. Kau ingin tahu kenapa aku mencoba bunuh diri.”
Dua kalimat di atas diucapkan oleh Chick Benetto, sang tokoh utama, kepada penulis novel ini. Novel yang ditulis seperti memoar, sedikit banyak membuat kita bertanya-tanya apakah cerita ini fiksi atau dari kejadian nyata. Namun, kisah fiksi tidak bisa seratus persen kebohongan belaka. Di dalamnya selalu ada kebenaran. Dan tentu saja buku ini fiksi. Kali ini aku membaca tentang seorang pria yang mencoba bunuh diri, dua kali, namun kembali ke kehidupan setelah melewatkan waktu bersama ibunya yang sudah meninggal.
Cerita bergulir dari usaha Chick bunuh diri dengan menabrakan diri ke truk di jalan tol, lalu dia menaiki menara air. Dia menjatuhkan diri, menghantam tanah. Namun, dia tidak berhasil menyelesaikan misi bunuh dirinya. Karena itu dia bangkit berjalan menuju rumah masa kecilnya. Di sana dia bertemu ibunya. Chick tidak percaya pada apa yang terjadi. Namun, semua terasa sangat nyata. Ibunya membuatkan sarapan, lalu mengajaknya pergi ke tiga tempat di kota mereka. Chick, dalam keterpanaannya, mengikuti ajakan ibunya, sang hantu.
Sepanjang perjalanan, dia mulai mengenang lagi masa-masa saat mereka masih satu keluarga. Saat dia harus memilih menjadi Anak Ibu atau Anak Ayah. Dia memilih menjadi Anak Ayah. Dia selalu bermain bisbol, berusaha menjadi anggota tim bisbol di sekolah, lalu mendapat beasiswa, dan menjadi pemain pro. Namun, saat masih sekolah, Ayah Chick pergi begitu saja. Ini membebani Chick. Dia tidak mengerti kenapa ayahnya pergi tanpa sempat berpamitan. Sedangkan ibunya tidak berniat untuk menyampaikan cerita sebenarnya. Chick remaja sungguh kebingungan.
Cerita Hantu
Begini kata-kata penulisnya:
“Ini sebuah cerita tentang keluarga dan, karena melibatkan sesosok hantu, kau bisa menyebutnya cerita hantu. Tapi semua keluarga adalah cerita hantu.”
Bagi Chick, sosok ibunya akan selalu dikenang. Chick juga menyimpan penyesalan karena tak sempat mengucapkan perpisahan. Saat ibunya pergi, dia tidak ada didekat beliau. Chick menyesali itu.
Dan dia diberikan kesempatan satu hari menghabiskan waktu bersama ibunya. Dalam satu hari yang singkat itu, ibunya menceritakan segala hal yang Chick belum tahu tentang keluarga mereka. Informasi-informasi itu membuat Chick semakin menyesali perbuatannya di masa lalu. Namun, seperti kata ibunya, Chick harus memaafkan seseorang—yaitu dirinya sendiri.
Perlahan-lahan, rahasia terbuka
Mitch Albom terkenal dengan novel Tuesday With Morris. Aku belum pernah membacanya, tetapi setelah membaca For One More Day, aku jadi ingin membaca kisah itu.
For One More Day sangat menarik. Novel ini ditulis dengan sederhana, tetapi menyimpan banyak cahaya di dalam kata-katanya. Konflik cerita disajikan di awal. Pembaca jadi tahu bagaimana dan tentang apa novel ini. Perlahan-lahan, penulis menyampaikan hubungan antartokoh, konflik mereka. Kemudian, dia menaburkan sedikit demi sedikit potongan kisah. Satu bagian kita mengenal tokoh begini, lalu di bagian lain kita mendapatkan hal yang membuat kita simpati pada tokoh. Semakin kita membalikkan halaman, rahasia semakin terbuka. Akhirnya kita tahu apa yang menjadi penyebab bunuh diri itu. Dan tentu saja mengenai kenapa ayah Chick pergi begitu saja.
Sebagai penulis, kita bisa belajar dari novel ini, yaitu membuat narasi yang mengalir dan apa adanya. Jangan berusaha keras untuk menciptakan suasana dramatis. Sampaikan cerita dengan jujur. Namun, berikan kisah sepotong demi sepotong. Buatlah pembaca mengenali dulu tokoh dan kejadian sebelum konflik utama terjadi. Inilah status quo.
Jangan menggantung pembaca dengan sengaja. Usahakan pembaca tidak sadar bahwa adegan itu memang dipotong agar mereka penasaran. Lalu, semakin menuju klimaks, bukalah rahasia besarnya. Tinggalkan pembaca dengan sebuah ending yang akan selalu diingatnya. Ending yang memuaskan. Walaupun ending novel ini, lagi-lagi, terasa seperti memoar/buku kisah nyata, tetap saja novel ini menarik untuk dibaca.
Labels:
adult,
America,
family,
Gramedia,
heartwarmer,
male author,
POV 1
Thursday, February 20, 2014
2014/5 The Hours (Michael Cunningham)
| Sumber gambar: annisaanggiana |
Penulis: Michael Cunninghum
Penerjemah: Saphira Tanka Zoelfikar
Editor: Anwar Holid
Penerbit: Jalasutra
Cetakan: 1, 2008
Tentang Tiga Orang Perempuan
Ada tiga tokoh di dalam novel ini, masing-masing diceritakan pada bab terpisah. Nama mereka menjadi penanda bab yang menceritakan mereka. Yaitu Mrs. Woolf, Mrs. Dalloway, serta Mrs. Brown.
Mrs. Woolf adalah Virginia Woolf, seorang penulis Inggris yang terkenal dengan karyanya mengenai perempuan. Diceritakan Virginia sedang berusaha menulis novel terbarunya, The Hours (terbit dengan judul Mrs. Dalloway), setelah dia pulih dari skizofrenia. Dia ingin kembali biasa, namun dia tak bisa melepaskan pikirannya yang terkadang menganggu. Ceritanya berlangsung pada tahun 1923 di Richmond, daerah pinggiran luar London.
Mrs. Dalloway adalah Clarissa Vaughan, seorang lesbian dan editor yang tinggal di New York. Sahabatnya dalam kondisi parah akibat AIDS, yaitu Richard, gay dan penulis yang baru saja dianugerahi salah satu penghargaan sastra. Richard memanggil Clarissa sebagai Mrs. Dalloway, karakter dalam novel Virginia Woolf. Cerita merekaberlangsung pada hari di mana malamnya Clarissa akan mengadakan pesta untuk Richard, tepat sebelum malam penganugerahan tersebut, di akhir abad keduapuluh.
Mrs. Brown adalah Laura Brown, seorang ibu rumah tangga yang sedang hamil anak kedua, tinggal di Los Angeles. Ceritanya berlangsung pada hari ulang tahun suaminya, Dan, di tahun 1949. Dia berusaha menciptakan hari itu spesial dengan membuat kue, hadiah, dan mengadakan pesta. Semuanya dia lakukan bersama Richie, putranya yang kalem.
Pikiran-pikiran yang berputar di kepala
Masing-masing cerita hanya berlangsung sekitar satu atau dua hari. Masing-masing tokoh, dengan tujuan yang cenderung biasa, hanya ingin rencana mereka berjalan lancar. Namun, satu hari bisa menjadi panjang, jika dihitung dalam jam. Dalam satu hari apa yang bisa terjadi, dalam satu jam apa yang bisa terjadi? Pikiran-pikiran para tokohlah yang menjadi perhatian. Bukan sekadar apa tindakan mereka demi mewujudkan tujuan mereka, namun isi kepala merekalah yang menjadi fokus penulis dalam novel ini.
Virginia masih kesulitan setelah pulih skizofrenia, dia kesulitan menentukan sikap terhadap orang-orang di rumahnya. Dia mengamati suaminya Leonard, menantang pelayannya sendiri, Nelly, dan memikirkan seekor burung mati yang dibaringkan oleh anak-anak saudara perempuannya, Vanessa. Dia juga mengingat ciuman selamat tinggalnya dengan sang kakak tersebut. Selain itu dia memikirkan calon novel Mrs. Dalloway.
Clarissa, dengan porsi cerita lebih banyak, menghabiskan pagi dengan membeli bunga untuk pesta, lalu mengunjungi Richard, lalu kembali ke rumah menemui pasangannya, lalu anaknya, lalu mantan Richard. Kelebatan pikirannya berkisar tentang dia dan Richard ketika masih muda, betapa saat ini dia kasihan sekali dengan Richard yang sudah menjelang kematian. Itu pun membuat Clarissa memikirkan kematiannya sendiri.
Sedangkan Laura, pikirannya penuh dengan kekhawatiran tentang menjadi istri bagi suami yang berulang tahun hari itu. Laura berusaha menjadi istri dan ibu yang baik, dengan beranjak dari tempat tidur—yang menginterupsi bacaannya, novel Mrs. Dalloway, membuat kue ulang tahun, menjaga anjing tetangga. Namun, dia tetap ingin mempunyai waktu untuk menghabiskan buku itu. Akhirnya dia menitipkan anaknya kepada tetangga.
Seperti cerita yang tanpa ujung, hingga kamu terkejut
Salah satu teknik menulis novel, apalagi bagi yang kesulitan membuat cerita panjang dengan satu tokoh utama (seperti aku), adalah dengan menciptakan banyak tokoh utama. Bisa tiga atau empat tokoh, atau lebih. Ceritakan beberapa orang dengan satu hal yang menjalin cerita ‘terpisah’ tersebut. Banyak contohnya, salah satunya novel yang memenangkan Putlizer Award dan PEN/Faulkner Award pada tahun 1999 ini. Awalnya tampak tidak berkaitan, namun semakin kita membalik halaman, cerita bergulir ke satu arah, tema novel ini sendiri. Salah satu yang mengikat tiga cerita dalam novel ini adalah novel Mrs. Dalloway, karya Virginia Woolf, yang karakternya menyukai sesama jenis.
Alur cerita dalam novel ini sungguh pelan, karena banyak narasi pikiran-pikiran para tokoh. Apalagi cerita berlangsung dalam waktu singkat. Beberapa bagian terlalu detail hingga hampir membuat bosan. Rasanya cerita ini tidak akan ada ujungnya, seakan-akan waktu di sana bertahan pada jam 3 sore saja. Jam 3 sore yang berlangsung empat jam. Namun, semakin ke belakang, semakin terbuka pintu rahasia, lalu kejutannya. Dan kita bisa menentukan siapa tokoh utama sebenarnya novel ini.
Yang paling menarik, tentu pikiran-pikiran para tokoh sendiri. Ketakutan dan kesedihan mereka masing-masing, antara kenyataan atau hanya dibuat-buat. Virginia takut jika dia tidak bisa menulis lagi. Clarissa takut pestanya akan gagal, serta Richard akan meninggal. Laura takut selamanya hanya menjadi istri dan ibu. Hal ini membuatku berpikir bahwa rasa takut itu bisa muncul begitu saja, datang dari luar, dari lingkungan sendiri. Namun, apakah itu kesalahan dari mereka semata? Kita tak bisa menghakimi sesuatu yang terjadi di otak orang lain. Solusinya tidak sesederhana melupakan atau berusaha tidak memikirkannya.
| Sumber gambar: Wikipedia |
Sebenarnya, menurutku, aku akan lebih memahami cerita ini jika aku sudah membaca Mrs. Dalloway. Karena seperti salah satu endorsement di buku ini, yaitu dari Yale Book Review: “Dengan The Hours, Cunningham telah melakukan hal yang mustahil; ia mengambil sebuah karya sastra yang diakui, mengerjakan ulang, dan membuat versinya sendiri.” Bisa jadi, ada pengulangan beberapa hal dari Mrs. Dalloway dalam The Hours. Entahlah. Sepertinya aku harus membaca novel yang terbit tahun 1925 tersebut. Dan sekadar info, novel ini sudah difilmkan pada tahun 2001, diintangi Meryl Streep, Nicole Kidman, dan Julianne Moore.
2014/3 Love Story (Erich Segal)
| Sumber: Hachette |
“Kenapa kau begitu yakin aku dari prep school?”Dan dialog paling kusuka saat Jenny menggoda Oliver:
“Tampangmu bodoh dan kaya,” jawabnya sambil mencopot kacamatanya.
“Kau keliru,” protesku. “Sebenarnya aku cerdas dan miskin.”
“Oh, jangan mengada-ada. Aku cerdas dan miskin.”
“Apa yang membuatmu begitu pintar?" Aku bertanya padanya.
“Aku takkan mau ditraktir minum kopi olehmu,” ia menjawab.
“Aku juga tak akan mau mengajakmu.”
“Itulah,” balasnya, “tandanya kau bodoh.”
“Jenny, kalau kau begitu yakin aku bodoh, kenapa kau memaksaku mengajakmu minum kopi?”
Ia menatap mataku dan tersenyum.
“Aku suka tubuhmu,” katanya.
Pertama terbit tahun 1970
Akhirnya aku bisa membaca versi novel cerita ini, setelah selama ini hanya menonton filmnya sekitar ... tidak kurang dari sepuluh kali mungkin. Haha. Pertama kali, saat masih ‘kecil’, seperti pernah kuceritakan di sini. Tetap saja cerita ini membuatku merasa seakan ada wallpaper taman bunga pada dinding kamarku. Kisah Oliver dan Jenny sudah menjadi cerita klasik tentang dua orang yang berasal dari status sosial berbeda. Ceritanya sentimental, memang, tetapi tidak terlalu berlebihan, menurutku.
Novelnya dibuat setelah filmnya selesai, dan terjual sebagai best seller internasional. Sedangkan filmnya sendiri memperoleh nominasi Oscar untuk beberapa kategoi termasuk “Best Writing, Screenplay Based on Material not Previously Published” untuk Erich Segal sendiri (kategori yang panjang juga, ya~). Dan film ini memenangkan kategori “Best Music, Original Score” untuk Francis Lai. Lagu “(Where do I Begin) Love Story” memang indah. Jadi, pengen dengar lagi, nih.
Oliver dan Jenny
Cerita dimulai dari Oliver dipermainkan Jenny saat cowok itu ingin meminjam buku di perpustakaan Radcliffe. Jenny, si petugas perpustakaan, dengan sentimennya pada mahasiswa Harvard, menyindir Oliver. Seharusnya mahasiswa Harvard punya perpustakaan yang lebih lengkap. Oliver berusaha berbaik-baik, tetapi sebagai orang bertemperamen buruk, dia hanya bisa membalas perkataan Jenny demi memperoleh buku itu. Lalu terjadi percakapan seperti kukutip di atas.
Cerita berlanjut. Mereka saling jatuh cinta, membuat mereka berubah, seperti orang jatuh cinta pada umumnya—ingin menjadi yang terbaik bagi pasangannya. Namun, tetap saja ada ketakutan-ketakutan akan kehilangan. Seperti Oliver, dia sering digoda teman sekamarnya karena sudah di-‘kuasai’ oleh Jenny. Atau seperti Jenny, diam-diam tidak memberitahu Oliver dia sudah mendapat beasiswa ke Paris.
Demi tetap bersama, Oliver melamar Jenny.
“Kau mau menikahiku?” tanya Jenny.
”Ya.”
“Kenapa?”
“Karena,” kataku
“Oh,” ujarnya, “itu alasan yang sangat bagus.”
Oliver mengajak Jenny ke rumah orangtuanya—yang tidak terlalu merestui hubungan mereka. Hal itu membuat Oliver marah. Ayahnya menganggap dia masih kecil dan tidak bisa menjaga diri sendiri. Ayahnya memang tipe diktator dan menganggap anak sebagai bawahan. Oliver memberontak dan berusaha tidak terikat lagi dengan orangtuanya. Maka, Oliver menikahi Jenny, tetapi mereka memang harus memulai kehidupan di apartemen yang jelek.
Perlahan-lahan, tanpa terlalu sentimental, cerita berlanjut pada perjuangan Oliver menyelesaikan pascasarjananya hingga mendapat pekerjaan yang layak. Mereka pindah ke New York, hidup lebih baik dengan rumah yang lapang. Sayangnya satu hal yang membuat cinta mereka perlu dihantui ketakutan akan perpisahan lagi: Jenny sakit parah.
Demi ada kesedihan, mari buat tokoh ceweknya mati -_-
Novel ini lebih seperti catatan kenangan atau seperti seorang teman yang bercerita padamu di suatu malam. Saat teman cowokmu tiba-tiba merasa sentimental setelah melihat bunga, dan dia ingin bercerita tentang cewek yang dia sukai dan mati. Dan kita tak mengharapkan dia bercerita dengan sangat apik seperti penulis yang hebat.
Kekuatan novel ini bukan di narasi, tetapi dialog. Erich Segal memang jago dalam urusan membuat dialog cinta terdengar lebih cerdas daripada sekadar percakapan cinta gombal atau klise. Contohnya seperti yang kukutip. Tonton juga filmnya, karena keseluruhan novel ini memang diambil dari filmnya. Hal ini bukti kalau tidak perlu mendayu-dayu untuk menyatakan cinta, tidak perlu berbunga-bunga untuk menyajikan cerita cinta yang indah, hanya perlu hubungan itu sendiri. Kejelasan dan kejernihan.
Kadang-kadang, penulis romance lokal abai untuk membangun hubungan antarkarakter dan terlalu sibuk untuk merangkai kata-kata yang seperti taman penjerat di jendela kamar: menghalangi pemandangan!
Hal yang cukup disayangkan dari cerita ini adalah adanya ketidaklogisan pada adegan Oliver diberitahu oleh dokter bahwa istrinya sakit leukimia. Sang dokter meminta Oliver untuk merahasiakan hal tersebut dari Jenny, karena hidup Jenny tidak lama lagi. Tentu saja hal ini aneh, kenapa mereka harus menyembunyikannya, bukannya langsung mengajak Jenny mengikuti terapi atau perawatan atau apa? Apalagi, tidak ada sebelumnya tanda-tanda (foreshadowing) bahwa Jenny menderita suatu penyakit. Inilah kelemahan dari novel ini, selain masih ada beberapa kebetulan atau tiba-tiba.
Walaupun begitu, saat membaca versi novelnya kita tidak perlu melihat keanehan lain seperti di film. Haha. Yaitu saat Jenny masih kelihatan cantik meskipun sudah sekarat, seperti di sinetron atau film murahan. Mungkin dimaklumkan karena film tahun 70-an.
Bagaimanapun juga, novel ini menarik dan bagus untuk dibaca pada bulan Februari seperti ini. Dengan membacanya kita akan tahu beberapa hal yang tidak terjelaskan oleh filmnya. Inilah keunggulan novel, ruangannya lebih dari cukup untuk memuat semua cerita dan alasan di balik tindakan tokoh. Sedangkan film, ada keterbatasan untuk mendapat informasi yang tidak bisa diverbalkan begitu saja.
Contohnya, di film ada adegan Jenny bermain bersama-sama anak-anak di pantai dan Oliver memperbaiki mesin. Saat menonton aku tahu Jenny mengajar di sekolah, tetapi ternyata itu adalah sebuah klub kapal persiar untuk anak-anak. Aku baru tahu setelah membaca bukunya. Jadi, membaca novel lebih baik jika kamu tertarik dengan cerita, dibanding film yang punya keterbatasan.
2014/1 Cheer Boy!! (Ryo Asai)
Judul: Cheer Danshi!! (Cheer Boy!!)
Penulis: Asai Ryo
Penerjemah: Faira Ammaeda
Penyunting: Tia Widiana
Proofreader: Dini Novita Sari
Desain: Bambang "Bambi" Gunawan
Penerbit: Penerbit Haru
Cetakan: I, November 2013
“… Tapi apakah ini masih bisa disebut cheerleading bila yang melakukannya sendiri tidak bisa menikmatinya?”
Penulis: Asai Ryo
Penerjemah: Faira Ammaeda
Penyunting: Tia Widiana
Proofreader: Dini Novita Sari
Desain: Bambang "Bambi" Gunawan
Penerbit: Penerbit Haru
Cetakan: I, November 2013
“… Tapi apakah ini masih bisa disebut cheerleading bila yang melakukannya sendiri tidak bisa menikmatinya?”
2 Menit 30 Detik
Penampilan sebuah tim pemandu sorak saat turnamen hanya dua menit tiga puluh detik. Dalam rentang waktu yang singkat itu mereka harus melakukan berbagai gerakan dan teknik demi membuat juri dan penonton kagum. Pemandu sorak bukan hanya jenis olahraga untuk mendukung, tetapi juga olahraga di mana mereka didukung. Dengan senyuman, mereka melompat tinggi dan meneriakkan semangat yang menggebu.
Selama ini kita hanya melihat tim pemandu sorak perempuan. Banyak film-film remaja Amerika yang menampilkan tokoh perempuan anggota tim pemandu sorak. Biasanya mereka memakai rok mini, baju seragam ketat, serta rambut dikuncir kuda tinggi-tinggi. Entah karena posisi cheer sangat prestisius, biasanya tokoh perempuan itu digambarkan sombong dan sedikit kejam.
Namun, novel ini, ditulis oleh Asai Ryo dan memenangkan penghargaan Tenryu Literary Award, menceritakan tentang sebuah tim pemandu sorak laki-laki. Memang, ada tim yang khusus perempuan, khusus laki-laki, dan campuran, tetapi tim khusus laki-laki masih bisa dibilang minoritas. Tidak heran kalau ada orang yang berkata “Bukannya itu olahraga cewek?”
Dunia sekarang memang suadh dikuasai cewek, haha. Ya, dunia menjadi lebih feminin dengan banyak hal dikaitkan dengan perempuan. Lebih banyak barang perempuan, kan? Bahkan cewek biasa saja melakukan pekerjaan cowok atau memakai pakaian cowok. Mereka menyebutnya kesetaraan, dan mendapat gelar tomboy bukan berarti itu buruk. Sebaliknya, sekarang cowok mesti berhati-hati jika melakukan “kesetaraan”. Bisa-bisa dikatai yang tidak-tidak. Namun, menurutku, Jepang adalah satu negara dengan cowok yang sifat feminin mereka bukan jadi sesuatu yang dianggap terlalu buruk. Sering aku melihat di film, aktor-aktor mereka memakai riasan, pakaian yang sangat fashionable, atau sekadar memakai tas tote bag. Bagiku, tote bag masih terlihat milik cewek.
Padahal seorang laki-laki melakukan kegiatan cewek bukan berarti mereka menjadi bukan laki-laki. Memangnya mereka ‘merendahkan’ diri? Kalau begitu, perempuan masih diangap rendah dong, di dunia ini. Walaupun, anehnya, masih ada cewek yang suka mengatai “banci” atau “tidak laki-laki” pada laki-laki yang melakukan sesuatu yang biasanya dilakukan perempuan.
Ah, kenapa malah panjang lebar membahas hal ini, sebaiknya membahas novelnya saja. :p
Dari Judo ke Cheerleader
Haruki lahir di keluarga atlet judo. Rumahnya memiliki bangunan untuk dojo, tempat berlatih judo. Orangtuanya pelatih judo di universitas dia kuliah. Kakak perempuannya, Haruko, adalah salah satu atlet yang bersinar di klub mereka. Haruki bertubuh kecil, jadi dia bukanlah atlet yang hebat seperti kakaknya. Haruki lebih suka melihat punggung kakaknya saat bertanding, dan menyemangati kakaknya.
Haruki merasa tidak akan bisa jago judo, terlebih setelah dia cedera di bahu. Kakaknya terus menyemangati dan mengingatkannya meminum obat. Sebenarnya dalam hati yang terdalam, Haruki tahu kalau dia hanya menjadikan cederanya untuk menghindari judo. Karena itu dia mundur dari klub.
Bersama Kazuma, teman semanjak kecilnya, mereka sama-sama keluar dari klub judo. Kazuma adalah orang yang paling memahami Haruki, walaupun temannya itu tidak mengatakan apa-apa. Kemudian, Kazuma mempunyai ide untuk membuat tim pemandu sorak khusus laki-laki, karena orangtuanya dulu adalah pelatih dan anggota tim pemandu sorak di universitas. Dia ingin seperti mereka.
Satu per satu mereka mengumpulkan anggota. Syarat untuk mengikuti turnamen adalah minimal delapan anggota dan maksimal enam belas anggota. Kazuma membuat pengumuman di kampus, dengan kertas warna kuning mencolok. Tidak banyak yang tertarik untuk masuk tim mereka, tetapi mereka mencari anggota dengan menyelinap ke kelas olahraga. Lalu mereka tampil di festival kampus, dan menarik beberapa orang untuk bergabung. Walaupun beberapa dari mereka ada yang tidak menguasai gerakan paling dasar sekali pun, seperti handstand, Kazuma dan Haruki tetap menerima mereka.
Bromance
Di mana ada sekelompok laki-laki berjuang untuk mencapai sebuah tujuan, di situlah bromance terjadi. Bromance bukan sesuatu seperti pacaran atau hubungan seksual, tetapi lebih ke saling memahami satu sama lain. Dalam novel ini banyak sekali pasangan yang bisa diberi label bromance.
Tokoh utamanya, Haruki, selalu merasa tenang kalau dekat Kazuma, karena Kazuma yang paling mengerti dirinya. Kazuma sengaja mengatur jadwal evaluasi mereka di kantin langganan agar Haruki tidak perlu bertemu dengan anggota tim judo yang lebih dulu ke sana. Sedangkan Haruki, tidak pernah menganggap Kazuma saingan, padahal dia perlu menciptakan suasana kompetitif agar bisa meningkatkan kemampuan sendiri.
Ada juga tokoh Gen dan Ichiro, pasangan pelawak dengan logat Kansai. Ichiro selalu lebih unggul dibanding Gen, saat mereka masuk tim bisbol di SMP, membuat Gen mesti mengakui kalau dia tidak akan bisa menyamai Ichiro. Tetapi Ichiro orangnya tidak perasa saat mengkritik anggota yang belum menguasai gerakan tertentu. Hal itu membuat Gen ingin mengingatkan Ichiro bahwa pasti ada alasan seseorang tidak bisa melakukan apa yang Ichiro lakukan.
Kebanyakan tokoh-tokoh di dalam novel ini memiliki masalah masing-masing, terutama dengan sahabat mereka. Tetapi mereka saling mendukung, dan tidak menganggap yang lain lebih buruk daripada mereka.
Novel yang Keren
Apakah karena penulisnya orang Jepang buku ini jadi sangat bagus?
>.<
Buku terjemahannya sendiri sekitar 420 halaman, tebal sekali dan membutuhkan waktu lama bagiku menghabiskannya. Namun, alurnya tertata dengan rapi. Setiap tokoh diperlihatkan perkembangan karakter mereka. Ada enam belas tokoh dan itu membuat bukunya tebaaal karena setiap tokoh diberi kesempatan untuk mendapatkan simpati pembaca melalui kisah alasan mereka ikut tim pemandu sorak laki-laki. Dan penulisnya berhasil membuatku menyukai setiap tokoh di dalam novel ini.
Sudah banyak cerita tentang sekelompok pemuda yang dianggap pecundang menunjukkan mereka bisa menjadi pemenang setelah berusaha. Sebut saja seperti Nodame Cantabile, Sumo Do Sumo Don’t, terus dari Hollywood sangat banyak seperti Glee, Pitch Perfect, Step Up, Bring It On, dan banyak lagi. Endingnya tentu tertebak, tetapi hasil bukanlah tujuan utama. Proses adalah yang terpenting, proses para tokohnya berubah dari seorang loser menjadi winner. Dan perjuangan mereka sebaiknya dirayakan dengan kemenangan yang pantas mereka dapatkan.
Novel ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga penyemangat untuk pembaca bahwa tidak ada yang tidak mungkin untuk dicapai, asalkan kita berusaha untuk mencapainya.
Subscribe to:
Posts (Atom)









