Showing posts with label America. Show all posts
Showing posts with label America. Show all posts

Sunday, June 1, 2014

2014/22 A Good and Happy Child (Justin Evans)

Sumber Gambar: yfrog.com
Judul Indonesia: Rahasia Bocah dari Masa Lalu
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah: Gita Yuliani K.
Editor: C. Donna Widjajanto
Desain sampul: Eduard Iwan Mangopang
Cetakan: I, Juli 2012

Ayah yang Ketakutan
George Davies menemui psikiaternya. Dia bercerita kalau dirinya adalah seorang ayah baru, tetapi dia tidak pernah menyentuh anaknya. Dia tak berani. Ada sesuatu yang menghalanginya untuk itu. Hal itu sudah membuat kesal istrinya, membuat mertuanya ingin ikut campur melalui sindiran-sindiran. Dia ingin sembuh, ingin kembali menyatukan keluarganya yang berada di ambang perceraian.

George mengaku dia pernah mendapatkan perawatan psikiater sebelumnya. Waktu dia 11 tahun. Saat mencoba mengingat, George tak sepenuhnya langsung menjelaskan semuanya. Kemudian, sang psikiater menyarankannya untuk memiliki jurnal. Dia harus mengisinya dengan apa pun, agar mereka sama-sama tahu jika ada masalah. Dan semua rahasia masa lalu tertulis dalam buku-buku jurnal tersebut. (Isi jurnalnya dibuat seperti cerita, bukan murni jurnal seperti diary).

Awalnya, jurnal itu berisi tentang kesedihan seorang bocah gemuk, berkacamata, tidak punya teman, dan korban bully di sekolah. Ayahnya baru saja meninggal setelah pulang dari luar negeri. Dia tidak menangis setelah tiga bulan kemudian, tetapi dia merasa hidupnya semakin menyebalkan. Selama ini dia merasa ayah atau ibunya tidak pernah benar-benar memperhatikannya.

Saat teman ayahnya, Tom Harris, bertandang ke rumah mereka, George merasakan sesuatu antara pria itu dengan ibunya. Seakan-akan ada yang terjadi, dan baru dilihatnya setelah sang ayah meninggal. Dia mencoba mengabaikan pemikiran tersebut. 

Hingga suatu malam dia melihat sebuah wajah di kamar mandi.

George Memanggilnya: Temanku
Dia tidak benar-benar nyata, George tahu itu. Awalnya Teman itu berupa wajah, lalu ketika tengah malam dia seakan utuh. Teman khayalan. Jenis teman yang bisa dimiliki oleh anak-anak. George mengatakan Teman mirip Huckleberry Finn, salah satu karakter ciptaan Mark Twain. Bocah itu dekil, berambut keemasan dan selalu kusut. Seringainya menyimpan banyak ide kenakalan. 

Dialah yang memberitahu George bahwa seseorang menginginkan kematian ayahnya. Dia juga yang membawa George ke taman kampus, dan menemui Tom Harris. George menyimpulkan bahwa Tom adalah orang yang membunuh ayahnya. Dan Teman menyuruh George menanyakan surat-surat ayahnya kepada Tom Harris, tetapi Tom tidak mau mengaku. Teman juga mengaku dia tahu bahwa ayah baptis George, Freddie, juga terlibat dalam hal ini. Dia juga mengatakan tentang surat. Karena tidak berhasil mendapatkan apa yang diinginkan, Teman melalukan hal lain.

George dibawa ke ayahnya. Sosok ayah dalam mimpi ini, mengaku kalau Tom dan Freddie membunuhnya. Dan George ingin membalas dendam. Tetapi, karena dia baru 11 tahun, dia tidak melalukannya sendirian. Dia malah tak sadar sadar melakukannya. Dia memutus kabel rem di mobil Tom Harris, menyebabkan pria itu kecelakaan dan kakinya patah. George dibawa ke psikiater untuk pengobatan. Dia disangka hanya sekadar anak nakal. Tetapi bukan, dia tidak melakukannya sendirian.

Semenjak itu, Tom beserta dua temannya—juga teman Ayah George—Freddie dan Clarissa, tahu bahwa sesuatu telah terjadi dengan George. Bocah itu didekati oleh setan, iblis, atau roh jahat dari neraka yang ingin membalas dendam. Mereka dendam karena ayah George sudah melakukan sesuatu yang dilanggar. Yaitu mencoba memasuki dunia setan untuk mencari kelemahan makhluk itu agar tidak mengganggu manusia lagi.

George cilik harus menghadapi masalah orang dewasa. Dia pun mulai mengenal ayahnya dari cerita teman-teman ayahnya. Bahwa ayahnya penganut agama yang taat, yang menulis buku tentang setan dan jin secara ilmiah, tetapi malah dijauhi oleh kalangan akademisi. Bahwa ayahnya pergi ke Honduras karena mendapat visi-visi di sana dia bisa meneliti lebih lanjut. Bahwa George memiliki kemampuan yang dulu dimiliki ayahnya.

Dan George harus menyingkirkan Teman agar tidak mengganggunya lagi. 

Fantasi, Horor, dan hmm, Relijius
Aku suka buku ini. Awalnya aku mengira ini cerita tentang teman khayalan saja. Ternyata cerita berlanjut ke kelompok relijius yang percaya bahwa iblis itu ada dan bisa menguasai manusia atau benda demi berbuat kerusakan. Ayah George meneliti dan menulis buku tentang itu, tetapi dia ingin melakukan dengan cukup ekstrim: dia ingin pergi langsung ke neraka untuk mencari tahu kelemahan iblis. Tentu saja iblis-iblis itu marah.

Novel ini benar-benar page turner. Aku merasa ingin terus mengetahui kelanjutannya. Menurutku, salah satu kekuatan novel ini adalah ia tidak berusaha untuk menahan-nahan rahasia secara berlebihan. Jika pembaca ingin tahu apa yang terjadi, kisahnya juga bergulir ke sana. Setelah didapatkan “pengetahuan baru” kita disuguhkan konsekuensinya, yaitu pertanyaan apa yang akan terjadi selanjutnya. 

(Inilah bedanya dengan sebuah buku penulis lokal yang kubaca di waktu bersamaan. Buku lain ini mencoba membuka rahasia, yang sebenarnya semua pembaca sudah menebak karena jelas-jelas kuncinya ada di judul, di akhir cerita. Seakan-akan pembaca bisa ditipu. Dan sayangnya, dia melakukan itu sekitar 3 kali.)

Kita kembali ke George. Aku merasa bisa memahami kenapa dia bersikap aneh di saat kecil, maupun dewasa. Dia diragukan oleh banyak orang. Dia selalu merasa tidak cocok berada di mana pun. Bahkan psikiaternya pun sempat menanyakan apakah cerita George di jurnal itu nyata, atau hanya khayalannya saja. 

Pada bagian George dengan psikiaternya saat dewasa, cerita menggunakan POV 1 sekaligus 2. Penulis menempatkan dirinya sebagai George (aku) dan pembaca sebagai Sang Psikiater (kamu). Asyiknya, menurutku, kita seperti dilibatkan dalam cerita.

Selain itu semua, novel ini benar-benar membuatku merinding, ketakutan, bisa merasakan betapa kesalnya punya orangtua yang tidak pengertian. Aku bisa merasakan emosi di dalam buku ini. Seakan-akan ceritanya memang nyata. Dan cerita ini juga mengingatkanku pada serial Supernatural. Hmm, kenapa cerita dengan tema pembasmi setan selalu memuat kisah diabaikan orangtua, ya? Aku jadi kepikiran.



Sekali lagi, aku suka buku ini. Dan aku cukup kaget kalau ini buku pertama Justin Evans, yang sehari-harinya bekerja sebagai eksekutif pengembang strategi dan bisnis. Keren!

Friday, May 9, 2014

2014/19 Just One Day (Gayle Forman)

Sumber Gambar: Aulia
Judul: Just One Day
Penerjemah: Poppy D. Chusfani
Editor: Barokah Ruziati
Desain Sampul: Marcel A. W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, 2014

Kecelakaan, Bukan Kebetulan, Seperti Takdir
Pertemuan Allyson Haeley dengan Willem ada kaitannya dengan Shakespeare. Alih-alih menonton drama Shakespeare bersama rombongan remaja yang ikut rangkaian acara di Teen Tour! di Stanford-upon-Avon, Allyson menerima undangan Willem. Dia pergi bersama Melanie, teman sejak masa kecilnya. Dan mereka menonton pertunjukkan Twelfth Night versi kelompok teater tanpa panggung, Gerilya Will. Di sanalah semua dimulai. Saat Willem melakukan kontak mata dengan Allyson. Saat cowok Belanda itu melemparkan koin kepada si cewek Amerika. 

Takdir lain terjadi, Allyson bertemu lagi dengan Willem. Dia bercerita penerbangannya ke Paris batal karena aksi mogok pekerja bandara di sana. Willem, seorang petualang yang sudah dua tahun tidak pulang, mengajak Allyson untuk naik kereta bersamanya. Ke Paris. Padahal Allyson bukanlah seorang petualang. Dia hidup bersama orangtuanya yang sudah merencanakan banyak hal semenjak dia kecil. Dia lebih senang tiduran di kamar sambil menonton film bersetting Paris daripada benar-benar pergi, apalagi dengan orang asing, yang baru dikenalnya semalam.  

Louise Brooks
Sumber Gambar: Listal.com
Namun, dia tetap pergi. Kemudian, terjadi adegan yang langsung mengingatkanku pada film Before Sunrise. Di atas kereta mereka saling mengobrol. Tetapi Willem memanggilnya Lulu, singkatan dari Louise Brooks, seorang aktris. Itu gara-gara potongan rambut bob Allyson. Tapi, cewek itu menerima begitu saja. Selama di Paris, mereka mengalami perjalanan yang membuat Allyson menyukai Willem. Semua terjadi dalam satu hari. 

Hingga besoknya—tidak seperti di Before Sunrise, mereka terbangun berdua—Allyson malah terbangun sendirian. Dia merasa bodoh sudah memercayai cowok tampan berambut pirang dengan mata sehitam arang. Padahal sepanjang perjalanan sudah berkali-kali Willem bertemu dengan cewek-cewek yang pernah ada sejarah dengannya. Allyson sudah melihat itu, tetapi dia tidak bisa menghentikan perasaannya. Dalam kekalutan dan perasaan seperti habis dirampok, Allyson kembali ke Amerika.

Pertanyaan yang Tepat
Salah satu kutipan Shakespear yang terkenal: to be or not to be, that is the question. Namun, Allyson lebih setuju kalau pertanyaannya adalah tentang bagaimana menjalankannya. Mungkin mudah menjadi sesuatu, tetapi bagaimana menjalankannya adalah tugas yang berbeda. 

Allyson memulai kehidupannya menjadi mahasiswi. Mahasiswi yang patah hati. Seperti zombie. Nilai-nilainya turun, dia merasa hanya selalu mengecewakan ibunya yang perfeksionis. Ibunya ingin dia sekolah pra-kedokteran, tetapi Allyson sadar itu bukan yang dia inginkan. Dan sepanjang satu tahun dia masih berduka gara-gara Willem.

Namun, setelah masuk kelas Shakespeare Out Loud, kelas yang membuatnya kenal dengan Dee, cowok kulit hitam dan seorang gay, Allyson berubah menjadi lebih terbuka. Selama ini dia hanya berteman dengan Melanie, sampai-sampai merasa tidak bisa lagi berteman dengan orang lain. Dia menceritakan tentang Willem pada Dee. Dan cowok itu menyemangati Allyson agar bangkit dan mencari jawaban tentang Willem. Lalu, dimulailah satu per satu pencarian. Allyson sadar dia tidak mengetahui banyak hal tentang Willem untuk bsia menemukannya. Tetapi dia percaya pada kecelakaan, sesuatu dapat membawanya ke jawaban yang tepat. 

Dan dia menjawab pertanyaan BAGAIMANA. Ya, dia bisa menjadi orang yang patah hati, tetapi bedanya dia menjadi orang yang berjuang untuk menemukan jawaban. Bukan sekadar sakit hati dan galau selama hampir satu tahun penuh.

Jika Aku Tidak Melanjutkan Membaca Buku Ini
Inilah buku ketiga Gayle Forman yang kubaca. Aku suka dwilogi If I Stay. Penulis membuat kisah dengan cara bercerita yang manis. Karakter utamanya cewek yang biasa, tetapi berubah setelah melakukan hal yang di luar dari zona nyamanya.

Awalnya kupikir Just One Day akan sama seperti If I Stay, cerita yang hanya terjadi satu hari. Ternyata tidak. Ini seperti kisah satu hari, dan apa yang terjadi setelah itu. Ya, karena terkadang cerita satu hari memberikan dampak yang sangat besar. Kita penasaran dengan kelanjutannya, kan?

Sumber Gambar: Goodreads
Aku bisa membagi tiga bagian dalam buku ini: pertemuan Allyson-Willem, masa-masa sedih, dan masa-masa pencarian. Aku suka bagian pertama dan terakhir, tidak yang di tengah-tengah. Penulis memang pintar membuat suasana yang sesuai dengan cerita, sampai-sampai aku terpengaruh untuk malas membaca bagian tengah. 

Aku tidak tahu apakah karena memang aku begitu gampang terbawa suasana cerita, tetapi dia berhasil. Aku tidak suka dengan aura negatif yang Allyson alami selama kuliah. Tetapi, aku memahami kenapa dia begitu. Aku bersimpati padanya—dia terpaksa kuliah di jurusan yang tidak dia sukai, gara-gara orangtuanya. Teman-temannya lebih suka berkumpul tanpa dirinya. Dan satu-satunya yang menolong adalah orang lain, konselor di kampus—karena sedikit banyak aku pernah berada di sana. Tapi, ya, aku tidak suka saat dia bersedih hanya gara-gara teringat Willem, dan berusaha untuk melepaskan kenangan. Yang berakhir gagal total.

Maka, aku suka saat dai mulai bangkit dan tidak berdiam diri saja. Dia harus melakukan sesuatu. Misinya mungkin konyol: kembali ke Paris untuk bertemu cowok petualang yang asalnya dari Belanda dengan hanya sedikit petunjuk. Dia harus mendatangi satu per satu petunjuk yang akan mengarahkannya. Di sinilah, Gayle Forman, membuat cerita ala detektif pada cerita romance. 

Aku suka dengan novel ini. Walaupun premisnya tentang cewek yang melakukan pencarian cinta masa lalu, banyak hal lain di dalamnya. Tentang orangtua yang memaksakan impiannya kepada anak sendiri. Tentang orang-orang yang suka berpura-pura. Tentang persahabatan. Tentang melakukan daftar sebelum meninggal. Tentang yakin pada keajaiban. Siapa bilang di dalam novel hanya boleh ada satu hal?

Dan aku ingin berbagi kutipan kesukaanku dari buku ini: 
Hal-hal kecil yang terjadi. Kadang-kadang kelihatan tidak penting; kali lain hal-hal kecil itu mengubah segalanya. (halaman 59)
Semua orang bukanlah apa-apa yang pura-pura mereka tunjukkan. (halaman 219)
Orang-orang tidak tahu bagaimana harus bersikap terhadapku—di lingkungan rumah, di SMA, di sini—maka mereka selalu berusaha mencari tahu sendiri dan menentukan siapa diriku sebenarnya. (halaman 244)
C’est courageux d’aller dans l’inconnu. Sungguh berani untuk memasuki daerah tidak dikenal. (halaman 294) 

PS. Jadi pengen belajar bahasa Prancis :)

Friday, May 2, 2014

2014/18 To All The Boys I've Loved Before (Jenny Han)

Sumber Gambar: Goodreads
Judul: To All The Boys I’ve Loved Before
Penulis: Jenny Han
Penerbit: Simon & Schuster BFYR, New York
Cetakan: I, 2014
ISBN: 978-1-4424-2670-2 (hardback), 978-1-4424-2672-6 (ebook)

Surat-Surat Dalam Kotak Topi
Lara Jean Song Covey menulis surat cinta untuk cowok-cowok yang dia sukai. Dia menulis sebagai ungkapan perpisahan, karena dia tahu cowok-cowok itu di luar jangkauannya. Dan semua suratnya tersimpan rapi dalam kotak topi. Hingga suatu hari kotak itu hilang dan semua surat terkirim. Ada total lima surat dan satu per satu cowok yang mendapatkan surat itu mendatangi Lara Jean.

Kenalkan, Peter Kavinsky: cowok populer dengan reputasi, atlit lacrosse, dan pacar Genevieve, cewek populer yang juga Presiden Kelas Junior. Dia mencuri ciuman pertama Lara Jean ketika SMP dulu. Dia digambarkan Lara Jean sebagai: cowok tertampan di antara yang tampan, cowok yang merasa puas terhadap diri sendiri, dan semua cewek berharap menjadi pacar Peter. Dialah yang pertama-tama memperlihatkan surat cinta yang ditulis Lara Jean. 

Lalu ada Josh Sanderson, tetangga sekaligus pacar Margot, kakak Lara Jean. Mereka putus karena Margot harus kuliah di Scotland. Josh cowok yang baik hati, rajin belajar, dan sangat dekat dengan keluarga Lara Jean. Dia tampan, tentu saja, dan semua orang gampang untuk suka padanya. Josh bertanya apakah perasaan Lara Jean benar seperti yang ada di surat yang dia terima. Tapi Lara Jean mengatakan dia menulis itu sudah lama sekali. Dia jadi malu. Lara Jean berbohong kalau dia tidak suka Josh lagi dan sudah punya pacar.

Demi menjaga mukanya di hadapan Josh, Lara Jean meminta Peter untuk jadi pacar pura-puranya. Dia mencium Peter di hadapan orang-orang di sekolah. Peter setuju, dia baru putus dengan Genevieve, karena cewek itu selingkuh dengan cowok kuliahan. Peter ingin membuat Genevieve cemburu. Mereka membuat kesepakatan, jangan sampai ada yang tahu mereka pura-pura dan jangan sampai mereka saling suka. 

Josh ternyata cemburu, dan dia bilang kalau dia tidak suka Peter. Peter punya reputasi buruk mempermainkan cewek. Dan Genevieve tidak mau rela begitu saja Lara Jean pacaran dengan Peter. Kehidupan Lara Jean perlahan-lahan menjadi tidak terkontrol saat orang-orang mulai yakin kalau dia dan Peter memang pacaran. Apalagi Lara Jean mulai terbiasa dengan perhatian Peter. Kemudian, Josh mengakui dia suka dengan Lara Jean juga. Padahal cewek yang hobi membuat kue ini tahu kalau Margot dan Josh belum benar-benar berakhir. Lara Jean merasa dia sedang mengkhianati kepercayaan kakaknya sendiri.

Lara Jean berusaha mencari tahu perasaannya sebenarnya. Apakah dia masih suka Josh atau tidak? Apakah dia bisa menjaga hatinya jangan sampai menyukai Peter? Belum lagi ada tiga surat lain yang terkirim dan dia harus menjelaskan kepada cowok-cowok itu bahwa surat itu ditulis bertahun-tahun lalu. 

Cinta Tak Tersampaikan
Salah satu tema novel teen romance favoritku adalah cinta yang tak bisa tersampaikan. Mungkin sedikit banyak terpengaruh lirik-lirik lagu AKB48, yang kebanyakan bercerita tentang jenis cinta ini. Tetapi, ya, banyak remaja yang mengalami ini, kan? Paling tidak, dulu aku sering mendengar cerita cewek-cewek suka cowok tetapi tidak berani bilang. Cinta diam-diam. (Oh, ya, jadi ingat waktu SMA aku pernah diminta teman cewekku untuk meminta nomor telepon cowok yang dia suka >.<)

Di cerita ini, Lara Jean Song Covey, cewek keturunan Korea-Amerika, menyampaikan cinta tak tersampaikannya lewat surat. Ide dasarnya cukup segar. Bagaimana jika pernyataan suka diam-diam kita sampai ke orangnya? Apakah kita siap dengan konsekuensinya, apakah kita memang ingin perasaan itu tersampaikan, atau sebenarnya kita menyimpannya karena kita tidak benar-benar suka? Atau kita takut akan ditolak? Atau tidak siap dengan hubungan jika diterima? Yup, banyak pertanyaan yang cenderung sederhana tetapi bisa jadi sangat filosofis dan penting.

Anak Tengah di Tengah-Tengah
Selain romance, dalam novel 368 halaman ini ada cerita tentang hubungan Lara Jean dengan dua saudarinya. Lara Jean menjadikan Margot sebagai panutan, pengganti ibu mereka yang sudah meninggal. Dan Lara Jean ingin menjadi panutan bagi adiknya, tetapi Kitty tampak lebih tegas dan mandiri dibandingkan Lara Jean. Ini membuatku teringat dengan teori ‘anak tengah’, di mana mereka selalu menjadi di antara banyak hal. Dia bukan anak-anak sepertinya adiknya, tetapi juga tidak sepenuhnya dewasa menjadi seperti kakaknya. Selain itu, juga terkait dengan “tengah-tengah” adalah tentang ras tokoh utama. Lara Jean keturunan Korea-Amerika. Ayahnya Amerika, ibunya Korea. Dan orang-orang sering bertanya apa dia? Korea-kah? Atau Amerika-kah? Terkadang itu membingungkan karena rasanya dia tidak berada di satu posisi yang pasti. Pernah mengalami hal seperti ini?

Sumber Gambar: Tumblr Jenny Han
Jenny Han, yang sebelumnya menulis trilogi The Summer I Turned Pretty dan Burn to Burn, menulis sebuah cerita remaja dengan manis dan lembut. Dia membuat tokoh Lara Jean sebagai anak rumahan baik-baik, sehingga pasti banyak pembaca cewek bisa gampang mengidentifikasi diri mereka dengan Lara Jean. Tokoh-tokoh yang lain pun juga menarik. Walaupun seperti kebanyakan cerita remaja Amerika para karakternya sangat tipikal. Selain itu, adegan-adegannya natural, romantisnya tidak berlebihan, (yup, tidak ada adegan seks tidak penting) dan juga lucu. Banyak adegan di dapur di mana Lara Jean membuat kue atau memasak. Namun, adegan tentang masak-memasak membaur dalam kepentingan cerita.

Salah hal yang tidak terlalu penting tetapi aku suka adalah Lara Jean mengatakan pada Peter kalau buku ketiga Harry Potter adalah yang terbaik. (Aku juga sangat sangat suka Harry Potter and The Prisoner of Azkaban!!!) Lara Jean heran kenapa Peter berhenti membaca di buku kedua. Sayang sekali. 



Covernya sangat menarik, ya? Foto cewek sedang di kamar, tiduran di kasur, dan memegang kertas, sangat pas dengan Lara Jean. Tulisan judulnya juga keren, tulisan tangan dengan spidol, saat disentuh seakan-akan memang ditulis dengan spidol permanen. Pastinya, aku tidak sabar untuk membaca kelanjutan cerita Lara Jean ini. Ya, ini kayaknya akan jadi trilogi seperti buku-buku Jenny Han sebelumnya.

Tuesday, March 4, 2014

2014/8 For One More Day (Mitch Albom)

Sumber: bacaanbzee
Judul: For One More Day
Penulis: Mitch Albom
Penerjemah: Olivia Gerungan
Desain cover: Eduard Iwan Mangopang
Penerbit: Gramedia
Cetakan: 2, April 2008

Seseorang yang menyerah
“Biar kutebak. Kau ingin tahu kenapa aku mencoba bunuh diri.”
Dua kalimat di atas diucapkan oleh Chick Benetto, sang tokoh utama, kepada penulis novel ini. Novel yang ditulis seperti memoar, sedikit banyak membuat kita bertanya-tanya apakah cerita ini fiksi atau dari kejadian nyata. Namun, kisah fiksi tidak bisa seratus persen kebohongan belaka. Di dalamnya selalu ada kebenaran. Dan tentu saja buku ini fiksi. Kali ini aku membaca tentang seorang pria yang mencoba bunuh diri, dua kali, namun kembali ke kehidupan setelah melewatkan waktu bersama ibunya yang sudah meninggal.

Cerita bergulir dari usaha Chick bunuh diri dengan menabrakan diri ke truk di jalan tol, lalu dia menaiki menara air. Dia menjatuhkan diri, menghantam tanah. Namun, dia tidak berhasil menyelesaikan misi bunuh dirinya. Karena itu dia bangkit berjalan menuju rumah masa kecilnya. Di sana dia bertemu ibunya. Chick tidak percaya pada apa yang terjadi. Namun, semua terasa sangat nyata. Ibunya membuatkan sarapan, lalu mengajaknya pergi ke tiga tempat di kota mereka. Chick, dalam keterpanaannya, mengikuti ajakan ibunya, sang hantu.

Sepanjang perjalanan, dia mulai mengenang lagi masa-masa saat mereka masih satu keluarga. Saat dia harus memilih menjadi Anak Ibu atau Anak Ayah. Dia memilih menjadi Anak Ayah. Dia selalu bermain bisbol, berusaha menjadi anggota tim bisbol di sekolah, lalu mendapat beasiswa, dan menjadi pemain pro. Namun, saat masih sekolah, Ayah Chick pergi begitu saja. Ini membebani Chick. Dia tidak mengerti kenapa ayahnya pergi tanpa sempat berpamitan. Sedangkan ibunya tidak berniat untuk menyampaikan cerita sebenarnya. Chick remaja sungguh kebingungan.

Cerita Hantu
Begini kata-kata penulisnya: 
“Ini sebuah cerita tentang keluarga dan, karena melibatkan sesosok hantu, kau bisa menyebutnya cerita hantu. Tapi semua keluarga adalah cerita hantu.”
Bagi Chick, sosok ibunya akan selalu dikenang. Chick juga menyimpan penyesalan karena tak sempat mengucapkan perpisahan. Saat ibunya pergi, dia tidak ada didekat beliau. Chick menyesali itu. 

Dan dia diberikan kesempatan satu hari menghabiskan waktu bersama ibunya. Dalam satu hari yang singkat itu, ibunya menceritakan segala hal yang Chick belum tahu tentang keluarga mereka. Informasi-informasi itu membuat Chick semakin menyesali perbuatannya di masa lalu. Namun, seperti kata ibunya, Chick harus memaafkan seseorang—yaitu dirinya sendiri. 

Perlahan-lahan, rahasia terbuka
Mitch Albom terkenal dengan novel Tuesday With Morris. Aku belum pernah membacanya, tetapi setelah membaca For One More Day, aku jadi ingin membaca kisah itu. 

For One More Day sangat menarik. Novel ini ditulis dengan sederhana, tetapi menyimpan banyak cahaya di dalam kata-katanya. Konflik cerita disajikan di awal. Pembaca jadi tahu bagaimana dan tentang apa novel ini. Perlahan-lahan, penulis menyampaikan hubungan antartokoh, konflik mereka. Kemudian, dia menaburkan sedikit demi sedikit potongan kisah. Satu bagian kita mengenal tokoh begini, lalu di bagian lain kita mendapatkan hal yang membuat kita simpati pada tokoh. Semakin kita membalikkan halaman, rahasia semakin terbuka. Akhirnya kita tahu apa yang menjadi penyebab bunuh diri itu. Dan tentu saja mengenai kenapa ayah Chick pergi begitu saja.

Sebagai penulis, kita bisa belajar dari novel ini, yaitu membuat narasi yang mengalir dan apa adanya. Jangan berusaha keras untuk menciptakan suasana dramatis. Sampaikan cerita dengan jujur. Namun, berikan kisah sepotong demi sepotong. Buatlah pembaca mengenali dulu tokoh dan kejadian sebelum konflik utama terjadi. Inilah status quo. 



Jangan menggantung pembaca dengan sengaja. Usahakan pembaca tidak sadar bahwa adegan itu memang dipotong agar mereka penasaran. Lalu, semakin menuju klimaks, bukalah rahasia besarnya. Tinggalkan pembaca dengan sebuah ending yang akan selalu diingatnya. Ending yang memuaskan.  Walaupun ending novel ini, lagi-lagi, terasa seperti memoar/buku kisah nyata, tetap saja novel ini menarik untuk dibaca. 

Thursday, February 20, 2014

2014/7 Can't Wait to Get to Heaven (Fannie Flagg)

Judul asli: Can’t Wait to Get to Heaven
Penerbit: Voila Books
Jumlah halaman: 525 halaman
Penerjemah: Dian Guci
Editor: Suhindrati a. Shinta
Penyelaras aksara: Ifah Nurjani, Alfiyan
Pewajah sampul: Widu Budi
Pewajah isi: elcreative26

Satu hari di Elmwood Springs, Missouri, tanggal 1 April 
Elner Shimfissle, berumur lebih kurang 89 tahun (bahkan keponakannya sendiri tidak tahu pasti umur Elner berapa), jatuh dari tangga saat mengambil buah ara dari pohonnya. Dia tidak sengaja menyentuh sarang tabuhan (tawon besar) sehingga dia diserang sekumpulan hewan ganas itu hingga jatuh. Dengan tubuh setua itu, dan gemuk, Elner membuat orang-orang tak yakin dia selamat. Tetangganyalah yang menemukan dia pertama kali. Dia dibawa ke IGD rumah sakit di Kansas city, karena Elmwood Springs hanyalah kota kecil yang tidak punya IGD. Elner diperiksa, lalu dinyatakan dia meninggal pukul 09.47.

Berita itu membuat semua orang yang mengenal Elner terkejut dan sedih. Terutama Norma, keponakannya yang sangat dekat dengannya. Semua orang mengenal Elner sebagai orang yang baik, ramah, senang membantu, dan berpikiran terbuka. Walaupun Elner kalah cantik dan pintar seperti adiknya, Ida—yang mana adalah ibu dari Norma—tetap saja Elner menjadi sosok yang menarik. Dia selalu mempertanyakan hal yang jarang dipikirkan orang, memperhatikan orang lain yang tidak diperhatikan, dan banyak kebaikan lain. Bahkan yang tidak pernah kamu bayangkan akan dilakukan oleh seorang berusia paruh baya. 

Meninggalnya Elner membuat semua orang sedih, dan acara pemakaman pun dipersiapkan. Seluruh kota siap untuk berbela sungkawa. Namun, Elner mengalami NDE (Near Death Experiences) dan kembali hidup. Seorang perawat muda panik setengah mati melihatnya. Norma pingsan untuk kesekian kalinya. Sebuah kejutan tak diharapkan, tetapi semua senang bahwa Elner tidak jadi meninggal. 

Tentang masyarakat
Novel ini menggunakan sudut pandang orang ketiga mahatahu (omnisien). Jadi, pembaca bisa mengetahui apa saja yang terjadi akibat berita kematian tersebut. Mulai dari orang-orang terdekat Elner, yaitu Norma, Macky—suami Norma, Tot dan Ruby—tetangga Elner, penyiar radio, redaksi koran lokal, teman Elner di wilayah pertanian pinggir kota, banyak orang lagi, hingga anak Norma yang tingga jauh di St. Loius. Kita bisa mendapatkan bagaimana hubungan para tokoh itu dengan Elner. 

Tentu saja ini membuat begitu beragamnya karakter di dalam novel ini. Setiap karakter dibuat berbeda, namun tetap memperlihatkan bagaimana masyarakat kota kecil Amerika. Mereka saling mengetahui kabar masing-masing, saling peduli, dan akur. Sebuah kejadian seperti kematian, bisa sangat menghebohkan. 

Di mana klimaksnya?
Hal pertama yang kupelajari dari novel ini adalah pembukaan novel mestilah mencerminkan isi buku. Sejak awal pembaca sudah diberitahu bahwa novel ini komedi dan gaib. Maksudku, sejak awal ada dialog lucu serta adegan arwah Elner mengomentari keadaan di sekitarnya. 

Setelah Elner Shimfissle tak sengaja menjolok sarang tabuhan di atas pohon ara miliknya itu, hal terakhir yang diingatnya adalah berpikir sendiri, “Waduh!” .... “Tuhan yang baik,” pikirnya. “Ada-ada saja, sih." (halaman 1)

Dan berikutnya Elner mengomentari jubah hijau para tenaga medis yang sedang berusaha membuatnya tetap tejaga. Arwah Elner sendiri, tanpa dia sadar, sudah berpisah dengan jasadnya.

Kedua, setiap hal yang dibicarakan oleh karakter mestilah ada pengaruhnya dengan konflik utama. Di sini, walaupun konfliknya cukup ajaib tetapi bukan sesuatu yang bombastis, adalah tentang Elner yang meninggal sementara dan melalui perjalanan ke ‘surga’. Hal-hal yang dibicarakan oleh dia sebelumnya dan oleh karakter-karakter lain, terkait denga percakapannya dengan ‘pencipta dunia’, yang teryata adalah sepasang suami istri Dorothy dan Raymond. Neighbor Dorothy adalah acara radio kegemaran Elner dulu.

Ketiga, penulis bisa menyampaikan pesan tanpa ceramah dengan membuat karakter mengobrol satu sama lain. Tambahkan humor dan sinisme agar membuat dialog menarik.

Keempat, kita bisa mengeksplor sebuah kejadian berdampak pada bermacam-macam karakter, sehingga, well, untuk penulis yang kesusahan menulis 'tebal',  ini bisa jadi salah satu solusi. Coba bayangkan sebuah sebab dan pikirkan puluhan akibatnya. Pikirkan pula puluhan akibatnya terhadap orang-orang yang akan terkena dampak. Begitulah kita bisa membuat cerita yang lebih menarik.

Walaupun begitu, beberapa bagian novel ini cenderung membosankan. Perbedaan ritme cerita di awal dan menjelang penghabisan jauh berbeda. Di awal fasenya lambat. Adegan satu hari menghabiskan lebih setengah buku. Sedangkan seperempat terakhir buku terlalu cepat. Bab-bab menjadi pendek, kronologi melompat satu tahun begitu saja. Tentu saja, jika ingin cerita yang lebih detail akan jadi mubazir dan novelnya bisa setebal 2000 halaman. 

Masalah lain adalah aku tidak mengerti di mana klimaksnya. Menurutku cerita ini bisa selesai setelah Elner kembali tinggal di rumahnya setelah kejadian ajaib bertemu tuhan tersebut. Itulah kilmasknya. Namun, kita diberikan cerita tambahan karena banyak hal dan karakter yang menuntut untuk diberi peyelesaian. Dasar penulisnya sangat baik, setiap karakter mendapat porsi cerita, bahkan karakter yang sangat minor. Oh, ya, bahkan penulis menceritakan tentang kue dan pistol. Akibatnya dua bab terakhir terpaksa menjadi rekap kejadian yang bisa dijabarkan, tetapi akan memakan banyak tambahan halaman. Kita tahu, bab rekap itu kurang menyenangkan. 



Novel ini tetap menarik. Penulis mengangkat tema kematian dan kebaikan dengan kocak, bertokohkan lansia (hampir tidak ada tokoh berusia di bawah 30 tahun), dan narasi cukup segar tak berbelit-belit. Dan aku jadi ingin kembali sesekali menonton Golden Girls, serial TV  yang pernah kutonton masih zaman kuliah. Hahaha.

2014/6 The Miraculous Journey of Edward Tulane (Kate DiCamillo)

Judul: The Miraculous Journey of Edward Tulane 
Penulis: Kate DiCamillo

Sumber Gambar: Poplar
(aku baca versi bahasa Indonesia, kok :D)

2014/5 The Hours (Michael Cunningham)

Sumber gambar: annisaanggiana
Judul: The Hours
Penulis: Michael Cunninghum
Penerjemah: Saphira Tanka Zoelfikar
Editor: Anwar Holid
Penerbit: Jalasutra
Cetakan: 1, 2008

Tentang Tiga Orang Perempuan
Ada tiga tokoh di dalam novel ini, masing-masing diceritakan pada bab terpisah. Nama mereka menjadi penanda bab yang menceritakan mereka. Yaitu Mrs. Woolf, Mrs. Dalloway, serta Mrs. Brown.

Mrs. Woolf adalah Virginia Woolf, seorang penulis Inggris yang terkenal dengan karyanya mengenai perempuan. Diceritakan Virginia sedang berusaha menulis novel terbarunya, The Hours (terbit dengan judul Mrs. Dalloway), setelah dia pulih dari skizofrenia. Dia ingin kembali biasa, namun dia tak bisa melepaskan pikirannya yang terkadang menganggu. Ceritanya berlangsung pada tahun 1923 di Richmond, daerah pinggiran luar London.

Mrs. Dalloway adalah Clarissa Vaughan, seorang lesbian dan editor yang tinggal di New York. Sahabatnya dalam kondisi parah akibat AIDS, yaitu Richard, gay dan penulis yang baru saja dianugerahi salah satu penghargaan sastra. Richard memanggil Clarissa sebagai Mrs. Dalloway, karakter dalam novel Virginia Woolf. Cerita merekaberlangsung pada hari di mana malamnya Clarissa akan mengadakan pesta untuk Richard, tepat sebelum malam penganugerahan tersebut, di akhir abad keduapuluh.

Mrs. Brown adalah Laura Brown, seorang ibu rumah tangga yang sedang hamil anak kedua, tinggal di Los Angeles. Ceritanya berlangsung pada hari ulang tahun suaminya, Dan, di tahun 1949. Dia berusaha menciptakan hari itu spesial dengan membuat kue, hadiah, dan mengadakan pesta. Semuanya dia lakukan bersama Richie, putranya yang kalem.

Pikiran-pikiran yang berputar di kepala
Masing-masing cerita hanya berlangsung sekitar satu atau dua hari. Masing-masing tokoh, dengan tujuan yang cenderung biasa, hanya ingin rencana mereka berjalan lancar. Namun, satu hari bisa menjadi panjang, jika dihitung dalam jam. Dalam satu hari apa yang bisa terjadi, dalam satu jam apa yang bisa terjadi? Pikiran-pikiran para tokohlah yang menjadi perhatian. Bukan sekadar apa tindakan mereka demi mewujudkan tujuan mereka, namun isi kepala merekalah yang menjadi fokus penulis dalam novel ini.

Virginia masih kesulitan setelah pulih skizofrenia, dia kesulitan menentukan sikap terhadap orang-orang di rumahnya. Dia mengamati suaminya Leonard, menantang pelayannya sendiri, Nelly, dan memikirkan seekor burung mati yang dibaringkan oleh anak-anak saudara perempuannya, Vanessa. Dia juga mengingat ciuman selamat tinggalnya dengan sang kakak tersebut. Selain itu dia memikirkan calon novel Mrs. Dalloway.

Clarissa, dengan porsi cerita lebih banyak, menghabiskan pagi dengan membeli bunga untuk pesta, lalu mengunjungi Richard, lalu kembali ke rumah menemui pasangannya, lalu anaknya, lalu mantan Richard. Kelebatan pikirannya berkisar tentang dia dan Richard ketika masih muda, betapa saat ini dia kasihan sekali dengan Richard yang sudah menjelang kematian. Itu pun membuat Clarissa memikirkan kematiannya sendiri.

Sedangkan Laura, pikirannya penuh dengan kekhawatiran tentang menjadi istri bagi suami yang berulang tahun hari itu. Laura berusaha menjadi istri dan ibu yang baik, dengan beranjak dari tempat tidur—yang menginterupsi bacaannya, novel Mrs. Dalloway, membuat kue ulang tahun, menjaga anjing tetangga. Namun, dia tetap ingin mempunyai waktu untuk menghabiskan buku itu. Akhirnya dia menitipkan anaknya kepada tetangga.

Seperti cerita yang tanpa ujung, hingga kamu terkejut
Salah satu teknik menulis novel, apalagi bagi yang kesulitan membuat cerita panjang dengan satu tokoh utama (seperti aku), adalah dengan menciptakan banyak tokoh utama. Bisa tiga atau empat tokoh, atau lebih. Ceritakan beberapa orang dengan satu hal yang menjalin cerita ‘terpisah’ tersebut. Banyak contohnya, salah satunya novel yang memenangkan Putlizer Award dan PEN/Faulkner Award pada tahun 1999 ini. Awalnya tampak tidak berkaitan, namun semakin kita membalik halaman, cerita bergulir ke satu arah, tema novel ini sendiri. Salah satu yang mengikat tiga cerita dalam novel ini adalah novel Mrs. Dalloway, karya Virginia Woolf, yang karakternya menyukai sesama jenis.

Alur cerita dalam novel ini sungguh pelan, karena banyak narasi pikiran-pikiran para tokoh. Apalagi cerita berlangsung dalam waktu singkat. Beberapa bagian terlalu detail hingga hampir membuat bosan. Rasanya cerita ini tidak akan ada ujungnya, seakan-akan waktu di sana bertahan pada jam 3 sore saja. Jam 3 sore yang berlangsung empat jam. Namun, semakin ke belakang, semakin terbuka pintu rahasia, lalu kejutannya. Dan kita bisa menentukan siapa tokoh utama sebenarnya novel ini.

Yang paling menarik, tentu pikiran-pikiran para tokoh sendiri. Ketakutan dan kesedihan mereka masing-masing, antara kenyataan atau hanya dibuat-buat. Virginia takut jika dia tidak bisa menulis lagi. Clarissa takut pestanya akan gagal, serta Richard akan meninggal. Laura takut selamanya hanya menjadi istri dan ibu. Hal ini membuatku berpikir bahwa rasa takut itu bisa muncul begitu saja, datang dari luar, dari lingkungan sendiri. Namun, apakah itu kesalahan dari mereka semata? Kita tak bisa menghakimi sesuatu yang terjadi di otak orang lain. Solusinya tidak sesederhana melupakan atau berusaha tidak memikirkannya.

Sumber gambar: Wikipedia
Suasana novel ini sungguh sedih. Setelah membacanya, perasaan sedih itu tetap tertahan. Prolog saja dimulai dengan kisah nyata kematian Virginia Woolf. Penulis ini bunuh diri di tahun 1942 dengan menghanyutkan diri di sungai. Suaminya mendapat surat perpisahan (suratnya bisa dibaca di sini). Dan bunuh diri Virginia adalah salah satu kunci cerita.

Sebenarnya, menurutku, aku akan lebih memahami cerita ini jika aku sudah membaca Mrs. Dalloway. Karena seperti salah satu endorsement di buku ini, yaitu dari Yale Book Review: “Dengan The Hours, Cunningham telah melakukan hal yang mustahil; ia mengambil sebuah karya sastra yang diakui, mengerjakan ulang, dan membuat versinya sendiri.” Bisa jadi, ada pengulangan beberapa hal dari Mrs. Dalloway dalam The Hours. Entahlah. Sepertinya aku harus membaca novel yang terbit tahun 1925 tersebut. Dan sekadar info, novel ini sudah difilmkan pada tahun 2001, diintangi Meryl Streep, Nicole Kidman, dan Julianne Moore.

2014/4 Pay It Forward (Catherine Ryan Hyde)

Sumber: aksiku.com
Judul : Pay It Forward
Penulis: Catherine Ryan Hyde
Penerjemah: Diniarty Pandia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: 1, Maret 2001

Sastra adalah propaganda
Salah satu cara untuk menyampaikan idemu adalah melalui sastra, dengan menulis fiksi. Sejarah telah banyak membuktikan ini cukup ampuh. Tanpa kekerasan. Tanpa pemaksaan. Cerita bisa memengaruhi orang, merasuk ke alam bawah sadar mereka. Coba diingat kembali, buku apa yang suka kamu baca waktu kecil? Tidak mengherankan salah satu atau beberapa sifatmu terpengaruh oleh watak tokoh dari buku tersebut. Bahkan ada penelitian yang menunjukkan perbedaan sebuah bangsa berdasarkan ciri khas dongeng anak-anak mereka.

Novel yang sudah difilmkan dengan judul yang sama, Pay It Forward, pada tahun 2000 ini bisa dibilang sebagai karya propaganda. Isinya terang-terangan menunjukkan sebuah ide untuk mengubah dunia. Pay It Forward, atau Membalas ke Yang Lain. Ide yang diawali sebuah tugas di kelas ilmu sosial SMP, oleh anak berumur tiga belas tahun.

Tugasnya sederhana:
PIKIRKAN SEBUAH IDE UNTUK MENGUBAH DUNIA. DAN LAKSANAKAN IDE ITU.

Trevor McKinney, siswa tersebut, melaksanakan tugasnya dengan sungguh-sungguh. Dia bisa saja tidak mengerjakannya karena tugas tersebut hanya untuk nilai ekstra. Namun, menjadi seorang anak kecil berarti tidak ada yang tidak mungkin untuk dilakukan. Sedangkan orang tua selalu melihat penghalang dalam mewujudkan impian mereka.

Idenya begini: A akan melakukan sebuah bantuan kebaikan kepada tiga orang. Kebaikan yang besar, sesuatu yang bisa mengubah hidup orang-orang tersebut, membuat mereka sangat bersyukur. Kemudian masing-masing akan membalas ke tiga orang lagi. Dari 3 menjadi 9 menjadi 27 menjadi 81. Seperti MLM tetapi lebih tulus.

Reuben St. Clair, guru ilmu sosialnya, terkesan dengan ide tersebut. Bahkan dialah salah satu orang yang ditolong Trevor. Reuben adalah veteran perang Vietnam, sebuah kecelakaan perang membuat sebelah mukanya terbakar, mata kirinya hilang. Dia memakai penutup mata ke mana-mana. Dia pun sudah terbiasa melihat pandangan aneh orang setiap pertama kali melihatnya.

Orang pertama yang dibantu oleh Trevor adalah Jerry, seorang tunawisma. Trevor memberinya uang untuk membeli pakaian dan melamar pekerjaan. Orang kedua adalah Ida Greenberg, nenek tua yang kesepian dan tidak dipedulikan anaknya. Trevor membantunya dalam merawat taman dan kucingnya, dua hal yang dicintai Mrs. Greenberg. Dan orang ketiga adalah Reuben. Trevor berusaha menjodohkan gurunya dengan ibunya sendiri, Arlene McKinney.

Namun, tidak ada yang berjalan dengan mulus. Jerry kembali ke kebiasaan lamanya berjudi tepat setelah gajian pertama diterima—yang langsung habis. Mrs. Greenberg meninggal dunia tanpa sempat membalas ke yang lain. Sedangkan Reuben tak serta merta bisa menerima hubungan dengan Arlene, karena dia masih memiliki ketakutan diakibatkan fisiknya dan segala macam.

Trevor hampir menyerah, hingga tanpa disadarinya, setiap orang masih punya nurani untuk menolong orang lain.

Kelompok marginal
Penulis berhasil membuat adegan-adegan dramatis namun tidak cengeng. Padahal dia sengaja menyorot kelompok-kelompok yang terpinggirkan dan memang patut ditolong, tetapi di dunia nyata mereka terkadang disalahartikan sebagai ‘kurang manusia’. Lihat saja orang-orang yang ditolong Trevor: tunawisma-pengangguran, orang tua kesepian, orang dengan keterbatasan fisik. Belum lagi tokoh-tokoh yang memperoleh efek pay it forward dari orang yang Trevor tolong: kasir remaja di toko sembako, gadis gemuk yang rapuh, anggota geng kelas teri, gay, dan waria. Bahkan keluarga Trevor sendiri tidak lengkap, ayahnya seorang tak bertanggung jawab yang pergi begitu saja tanpa kabar dan datang begitu saja tanpa merasa bersalah. Orang-orang bermasalah juga manusia, juga membutuhkan pertolongan. Niat baik Trevor hanya untuk mengubah dunia, sesuatu yang mungkin saja bisa tercapai.

Hal ini mengingatkanku pada pendapat bahwa adalah manusiawi jika manusia melakukan kejahatan. Kita membaca kisah Habil dan Qobil di kitab suci, atau kisah Adam dan Hawa memakan buah terlarang. Manusia memang berbuat salah. Malah aneh manusia melakukan kebaikan kepada sesamanya. Dan, ya, dalam novel ini gerakan Membalas ke Yang Lain diliput oleh media. Saat efeknya tersebar ke banyak penjuru semakin banyak berita kebaikan di koran. Seandainya saja memang hanya berita seseorang melakukan kebaikan kepada orang lain yang masuk berita. Seandainya~

Novel vs. Film
Aku tidak terlalu banyak membaca buku yang difilmkan dengan urutan menonton dahulu baru membaca bukunya. Namun, setiap kali mencoba selalu merasa buku lebih komplit dan memuaskan bagiku. Dengan keterbatasan masing-masing, buku jauh lebih unggul dalam segi menyampaikan cerita. Kita bisa diberi penguluran waktu, berdebar-debar menunggu kejadian selanjutnya, berkali-kali, saat membaca buku. Sedangkan film, kebanyakan masalah yang kompleks terihat begitu sederhana. Kurang terasa, seperti makan dengan sambal yang kurang pedas.

Namun, penggunaan sudut pandang yang berpindah-pindah, walaupun dijelaskan, cukup mengangguku, membuat aku agak kesulitan menyelesaikan lebih cepat. Jika saja buku ini disajikan tanpa ada POV 1 (dalam bentuk wawancara atau jurnal para tokoh) tiba-tiba muncul di POV 3, tentu proses pembacaan akan lebih lancar.

Buku ini sangat bagus untuk dibaca demi memahami apa itu pay it forward. Dan gerakan ini bisa dilakukan oleh siapa saja. Yup, beginilah hakikat sebuah karya fiksi, tugasnya untuk menyampaikan propaganda. 

2014/3 Love Story (Erich Segal)

Sumber: Hachette
“Kenapa kau begitu yakin aku dari prep school?”
“Tampangmu bodoh dan kaya,” jawabnya sambil mencopot kacamatanya.
“Kau keliru,” protesku. “Sebenarnya aku cerdas dan miskin.”
“Oh, jangan mengada-ada. Aku cerdas dan miskin.”
“Apa yang membuatmu begitu pintar?" Aku bertanya padanya.
“Aku takkan mau ditraktir minum kopi olehmu,” ia menjawab.
“Aku juga tak akan mau mengajakmu.”
“Itulah,” balasnya, “tandanya kau bodoh.”
Dan dialog paling kusuka saat Jenny menggoda Oliver:
“Jenny, kalau kau begitu yakin aku bodoh, kenapa kau memaksaku mengajakmu minum kopi?”
Ia menatap mataku dan tersenyum.
“Aku suka tubuhmu,” katanya. 



Pertama terbit tahun 1970
Akhirnya aku bisa membaca versi novel cerita ini, setelah selama ini hanya menonton filmnya sekitar ... tidak kurang dari sepuluh kali mungkin. Haha. Pertama kali, saat masih ‘kecil’, seperti pernah kuceritakan di sini. Tetap saja cerita ini membuatku merasa seakan ada wallpaper taman bunga pada dinding kamarku. Kisah Oliver dan Jenny sudah menjadi cerita klasik tentang dua orang yang berasal dari status sosial berbeda. Ceritanya sentimental, memang, tetapi tidak terlalu berlebihan, menurutku.

Novelnya dibuat setelah filmnya selesai, dan terjual sebagai best seller internasional. Sedangkan filmnya sendiri memperoleh nominasi Oscar untuk beberapa kategoi termasuk “Best Writing, Screenplay Based on Material not Previously Published” untuk Erich Segal sendiri (kategori yang panjang juga, ya~). Dan film ini memenangkan kategori “Best Music, Original Score” untuk Francis Lai. Lagu “(Where do I Begin) Love Story” memang indah. Jadi, pengen dengar lagi, nih.


Oliver dan Jenny
Cerita dimulai dari Oliver dipermainkan Jenny saat cowok itu ingin meminjam buku di perpustakaan Radcliffe. Jenny, si petugas perpustakaan, dengan sentimennya pada mahasiswa Harvard, menyindir Oliver. Seharusnya mahasiswa Harvard punya perpustakaan yang lebih lengkap. Oliver berusaha berbaik-baik, tetapi sebagai orang bertemperamen buruk, dia hanya bisa membalas perkataan Jenny demi memperoleh buku itu. Lalu terjadi percakapan seperti kukutip di atas.

Cerita berlanjut. Mereka saling jatuh cinta, membuat mereka berubah, seperti orang jatuh cinta pada umumnya—ingin menjadi yang terbaik bagi pasangannya. Namun, tetap saja ada ketakutan-ketakutan akan kehilangan. Seperti Oliver, dia sering digoda teman sekamarnya karena sudah di-‘kuasai’ oleh Jenny. Atau seperti Jenny, diam-diam tidak memberitahu Oliver dia sudah mendapat beasiswa ke Paris. 

Demi tetap bersama, Oliver melamar Jenny.
“Kau mau menikahiku?” tanya Jenny.
”Ya.”
“Kenapa?”
“Karena,” kataku
“Oh,” ujarnya, “itu alasan yang sangat bagus.”

Oliver mengajak Jenny ke rumah orangtuanya—yang tidak terlalu merestui hubungan mereka. Hal itu membuat Oliver marah. Ayahnya menganggap dia masih kecil dan tidak bisa menjaga diri sendiri. Ayahnya memang tipe diktator dan menganggap anak sebagai bawahan. Oliver memberontak dan berusaha tidak terikat lagi dengan orangtuanya. Maka, Oliver menikahi Jenny, tetapi mereka memang harus memulai kehidupan di apartemen yang jelek.

Perlahan-lahan, tanpa terlalu sentimental, cerita berlanjut pada perjuangan Oliver menyelesaikan pascasarjananya hingga mendapat pekerjaan yang layak. Mereka pindah ke New York, hidup lebih baik dengan rumah yang lapang. Sayangnya satu hal yang membuat cinta mereka perlu dihantui ketakutan akan perpisahan lagi: Jenny sakit parah.

Demi ada kesedihan, mari buat tokoh ceweknya mati -_-
Novel ini lebih seperti catatan kenangan atau seperti seorang teman yang bercerita padamu di suatu malam. Saat teman cowokmu tiba-tiba merasa sentimental setelah melihat bunga, dan dia ingin bercerita tentang cewek yang dia sukai dan mati. Dan kita tak mengharapkan dia bercerita dengan sangat apik seperti penulis yang hebat.

Kekuatan novel ini bukan di narasi, tetapi dialog. Erich Segal memang jago dalam urusan membuat dialog cinta terdengar lebih cerdas daripada sekadar percakapan cinta gombal atau klise. Contohnya seperti yang kukutip. Tonton juga filmnya, karena keseluruhan novel ini memang diambil dari filmnya. Hal ini bukti kalau tidak perlu mendayu-dayu untuk menyatakan cinta, tidak perlu berbunga-bunga untuk menyajikan cerita cinta yang indah, hanya perlu hubungan itu sendiri. Kejelasan dan kejernihan.

Kadang-kadang, penulis romance lokal abai untuk membangun hubungan antarkarakter dan terlalu sibuk untuk merangkai kata-kata yang seperti taman penjerat di jendela kamar: menghalangi pemandangan!

Hal yang cukup disayangkan dari cerita ini adalah adanya ketidaklogisan pada adegan Oliver diberitahu oleh dokter bahwa istrinya sakit leukimia. Sang dokter meminta Oliver untuk merahasiakan hal tersebut dari Jenny, karena hidup Jenny tidak lama lagi. Tentu saja hal ini aneh, kenapa mereka harus menyembunyikannya, bukannya langsung mengajak Jenny mengikuti terapi atau perawatan atau apa? Apalagi, tidak ada sebelumnya tanda-tanda (foreshadowing) bahwa Jenny menderita suatu penyakit. Inilah kelemahan dari novel ini, selain masih ada beberapa kebetulan atau tiba-tiba.

Walaupun begitu, saat membaca versi novelnya kita tidak perlu melihat keanehan lain seperti di film. Haha. Yaitu saat Jenny masih kelihatan cantik meskipun sudah sekarat, seperti di sinetron atau film murahan. Mungkin dimaklumkan karena film tahun 70-an.

Bagaimanapun juga, novel ini menarik dan bagus untuk dibaca pada bulan Februari seperti ini. Dengan membacanya kita akan tahu beberapa hal yang tidak terjelaskan oleh filmnya. Inilah keunggulan novel, ruangannya lebih dari cukup untuk memuat semua cerita dan alasan di balik tindakan tokoh. Sedangkan film, ada keterbatasan untuk mendapat informasi yang tidak bisa diverbalkan begitu saja.

Contohnya, di film ada adegan Jenny bermain bersama-sama anak-anak di pantai dan Oliver memperbaiki mesin. Saat menonton aku tahu Jenny mengajar di sekolah, tetapi ternyata itu adalah sebuah klub kapal persiar untuk anak-anak. Aku baru tahu setelah membaca bukunya. Jadi, membaca novel lebih baik jika kamu tertarik dengan cerita, dibanding film yang punya keterbatasan.

2014/2 Fight Club (Chuck Palahniuk)

Judul: Fight Club
Penulis: Chuck Palahniuk