Showing posts with label female author. Show all posts
Showing posts with label female author. Show all posts

Friday, May 9, 2014

2014/19 Just One Day (Gayle Forman)

Sumber Gambar: Aulia
Judul: Just One Day
Penerjemah: Poppy D. Chusfani
Editor: Barokah Ruziati
Desain Sampul: Marcel A. W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, 2014

Kecelakaan, Bukan Kebetulan, Seperti Takdir
Pertemuan Allyson Haeley dengan Willem ada kaitannya dengan Shakespeare. Alih-alih menonton drama Shakespeare bersama rombongan remaja yang ikut rangkaian acara di Teen Tour! di Stanford-upon-Avon, Allyson menerima undangan Willem. Dia pergi bersama Melanie, teman sejak masa kecilnya. Dan mereka menonton pertunjukkan Twelfth Night versi kelompok teater tanpa panggung, Gerilya Will. Di sanalah semua dimulai. Saat Willem melakukan kontak mata dengan Allyson. Saat cowok Belanda itu melemparkan koin kepada si cewek Amerika. 

Takdir lain terjadi, Allyson bertemu lagi dengan Willem. Dia bercerita penerbangannya ke Paris batal karena aksi mogok pekerja bandara di sana. Willem, seorang petualang yang sudah dua tahun tidak pulang, mengajak Allyson untuk naik kereta bersamanya. Ke Paris. Padahal Allyson bukanlah seorang petualang. Dia hidup bersama orangtuanya yang sudah merencanakan banyak hal semenjak dia kecil. Dia lebih senang tiduran di kamar sambil menonton film bersetting Paris daripada benar-benar pergi, apalagi dengan orang asing, yang baru dikenalnya semalam.  

Louise Brooks
Sumber Gambar: Listal.com
Namun, dia tetap pergi. Kemudian, terjadi adegan yang langsung mengingatkanku pada film Before Sunrise. Di atas kereta mereka saling mengobrol. Tetapi Willem memanggilnya Lulu, singkatan dari Louise Brooks, seorang aktris. Itu gara-gara potongan rambut bob Allyson. Tapi, cewek itu menerima begitu saja. Selama di Paris, mereka mengalami perjalanan yang membuat Allyson menyukai Willem. Semua terjadi dalam satu hari. 

Hingga besoknya—tidak seperti di Before Sunrise, mereka terbangun berdua—Allyson malah terbangun sendirian. Dia merasa bodoh sudah memercayai cowok tampan berambut pirang dengan mata sehitam arang. Padahal sepanjang perjalanan sudah berkali-kali Willem bertemu dengan cewek-cewek yang pernah ada sejarah dengannya. Allyson sudah melihat itu, tetapi dia tidak bisa menghentikan perasaannya. Dalam kekalutan dan perasaan seperti habis dirampok, Allyson kembali ke Amerika.

Pertanyaan yang Tepat
Salah satu kutipan Shakespear yang terkenal: to be or not to be, that is the question. Namun, Allyson lebih setuju kalau pertanyaannya adalah tentang bagaimana menjalankannya. Mungkin mudah menjadi sesuatu, tetapi bagaimana menjalankannya adalah tugas yang berbeda. 

Allyson memulai kehidupannya menjadi mahasiswi. Mahasiswi yang patah hati. Seperti zombie. Nilai-nilainya turun, dia merasa hanya selalu mengecewakan ibunya yang perfeksionis. Ibunya ingin dia sekolah pra-kedokteran, tetapi Allyson sadar itu bukan yang dia inginkan. Dan sepanjang satu tahun dia masih berduka gara-gara Willem.

Namun, setelah masuk kelas Shakespeare Out Loud, kelas yang membuatnya kenal dengan Dee, cowok kulit hitam dan seorang gay, Allyson berubah menjadi lebih terbuka. Selama ini dia hanya berteman dengan Melanie, sampai-sampai merasa tidak bisa lagi berteman dengan orang lain. Dia menceritakan tentang Willem pada Dee. Dan cowok itu menyemangati Allyson agar bangkit dan mencari jawaban tentang Willem. Lalu, dimulailah satu per satu pencarian. Allyson sadar dia tidak mengetahui banyak hal tentang Willem untuk bsia menemukannya. Tetapi dia percaya pada kecelakaan, sesuatu dapat membawanya ke jawaban yang tepat. 

Dan dia menjawab pertanyaan BAGAIMANA. Ya, dia bisa menjadi orang yang patah hati, tetapi bedanya dia menjadi orang yang berjuang untuk menemukan jawaban. Bukan sekadar sakit hati dan galau selama hampir satu tahun penuh.

Jika Aku Tidak Melanjutkan Membaca Buku Ini
Inilah buku ketiga Gayle Forman yang kubaca. Aku suka dwilogi If I Stay. Penulis membuat kisah dengan cara bercerita yang manis. Karakter utamanya cewek yang biasa, tetapi berubah setelah melakukan hal yang di luar dari zona nyamanya.

Awalnya kupikir Just One Day akan sama seperti If I Stay, cerita yang hanya terjadi satu hari. Ternyata tidak. Ini seperti kisah satu hari, dan apa yang terjadi setelah itu. Ya, karena terkadang cerita satu hari memberikan dampak yang sangat besar. Kita penasaran dengan kelanjutannya, kan?

Sumber Gambar: Goodreads
Aku bisa membagi tiga bagian dalam buku ini: pertemuan Allyson-Willem, masa-masa sedih, dan masa-masa pencarian. Aku suka bagian pertama dan terakhir, tidak yang di tengah-tengah. Penulis memang pintar membuat suasana yang sesuai dengan cerita, sampai-sampai aku terpengaruh untuk malas membaca bagian tengah. 

Aku tidak tahu apakah karena memang aku begitu gampang terbawa suasana cerita, tetapi dia berhasil. Aku tidak suka dengan aura negatif yang Allyson alami selama kuliah. Tetapi, aku memahami kenapa dia begitu. Aku bersimpati padanya—dia terpaksa kuliah di jurusan yang tidak dia sukai, gara-gara orangtuanya. Teman-temannya lebih suka berkumpul tanpa dirinya. Dan satu-satunya yang menolong adalah orang lain, konselor di kampus—karena sedikit banyak aku pernah berada di sana. Tapi, ya, aku tidak suka saat dia bersedih hanya gara-gara teringat Willem, dan berusaha untuk melepaskan kenangan. Yang berakhir gagal total.

Maka, aku suka saat dai mulai bangkit dan tidak berdiam diri saja. Dia harus melakukan sesuatu. Misinya mungkin konyol: kembali ke Paris untuk bertemu cowok petualang yang asalnya dari Belanda dengan hanya sedikit petunjuk. Dia harus mendatangi satu per satu petunjuk yang akan mengarahkannya. Di sinilah, Gayle Forman, membuat cerita ala detektif pada cerita romance. 

Aku suka dengan novel ini. Walaupun premisnya tentang cewek yang melakukan pencarian cinta masa lalu, banyak hal lain di dalamnya. Tentang orangtua yang memaksakan impiannya kepada anak sendiri. Tentang orang-orang yang suka berpura-pura. Tentang persahabatan. Tentang melakukan daftar sebelum meninggal. Tentang yakin pada keajaiban. Siapa bilang di dalam novel hanya boleh ada satu hal?

Dan aku ingin berbagi kutipan kesukaanku dari buku ini: 
Hal-hal kecil yang terjadi. Kadang-kadang kelihatan tidak penting; kali lain hal-hal kecil itu mengubah segalanya. (halaman 59)
Semua orang bukanlah apa-apa yang pura-pura mereka tunjukkan. (halaman 219)
Orang-orang tidak tahu bagaimana harus bersikap terhadapku—di lingkungan rumah, di SMA, di sini—maka mereka selalu berusaha mencari tahu sendiri dan menentukan siapa diriku sebenarnya. (halaman 244)
C’est courageux d’aller dans l’inconnu. Sungguh berani untuk memasuki daerah tidak dikenal. (halaman 294) 

PS. Jadi pengen belajar bahasa Prancis :)

Friday, May 2, 2014

2014/18 To All The Boys I've Loved Before (Jenny Han)

Sumber Gambar: Goodreads
Judul: To All The Boys I’ve Loved Before
Penulis: Jenny Han
Penerbit: Simon & Schuster BFYR, New York
Cetakan: I, 2014
ISBN: 978-1-4424-2670-2 (hardback), 978-1-4424-2672-6 (ebook)

Surat-Surat Dalam Kotak Topi
Lara Jean Song Covey menulis surat cinta untuk cowok-cowok yang dia sukai. Dia menulis sebagai ungkapan perpisahan, karena dia tahu cowok-cowok itu di luar jangkauannya. Dan semua suratnya tersimpan rapi dalam kotak topi. Hingga suatu hari kotak itu hilang dan semua surat terkirim. Ada total lima surat dan satu per satu cowok yang mendapatkan surat itu mendatangi Lara Jean.

Kenalkan, Peter Kavinsky: cowok populer dengan reputasi, atlit lacrosse, dan pacar Genevieve, cewek populer yang juga Presiden Kelas Junior. Dia mencuri ciuman pertama Lara Jean ketika SMP dulu. Dia digambarkan Lara Jean sebagai: cowok tertampan di antara yang tampan, cowok yang merasa puas terhadap diri sendiri, dan semua cewek berharap menjadi pacar Peter. Dialah yang pertama-tama memperlihatkan surat cinta yang ditulis Lara Jean. 

Lalu ada Josh Sanderson, tetangga sekaligus pacar Margot, kakak Lara Jean. Mereka putus karena Margot harus kuliah di Scotland. Josh cowok yang baik hati, rajin belajar, dan sangat dekat dengan keluarga Lara Jean. Dia tampan, tentu saja, dan semua orang gampang untuk suka padanya. Josh bertanya apakah perasaan Lara Jean benar seperti yang ada di surat yang dia terima. Tapi Lara Jean mengatakan dia menulis itu sudah lama sekali. Dia jadi malu. Lara Jean berbohong kalau dia tidak suka Josh lagi dan sudah punya pacar.

Demi menjaga mukanya di hadapan Josh, Lara Jean meminta Peter untuk jadi pacar pura-puranya. Dia mencium Peter di hadapan orang-orang di sekolah. Peter setuju, dia baru putus dengan Genevieve, karena cewek itu selingkuh dengan cowok kuliahan. Peter ingin membuat Genevieve cemburu. Mereka membuat kesepakatan, jangan sampai ada yang tahu mereka pura-pura dan jangan sampai mereka saling suka. 

Josh ternyata cemburu, dan dia bilang kalau dia tidak suka Peter. Peter punya reputasi buruk mempermainkan cewek. Dan Genevieve tidak mau rela begitu saja Lara Jean pacaran dengan Peter. Kehidupan Lara Jean perlahan-lahan menjadi tidak terkontrol saat orang-orang mulai yakin kalau dia dan Peter memang pacaran. Apalagi Lara Jean mulai terbiasa dengan perhatian Peter. Kemudian, Josh mengakui dia suka dengan Lara Jean juga. Padahal cewek yang hobi membuat kue ini tahu kalau Margot dan Josh belum benar-benar berakhir. Lara Jean merasa dia sedang mengkhianati kepercayaan kakaknya sendiri.

Lara Jean berusaha mencari tahu perasaannya sebenarnya. Apakah dia masih suka Josh atau tidak? Apakah dia bisa menjaga hatinya jangan sampai menyukai Peter? Belum lagi ada tiga surat lain yang terkirim dan dia harus menjelaskan kepada cowok-cowok itu bahwa surat itu ditulis bertahun-tahun lalu. 

Cinta Tak Tersampaikan
Salah satu tema novel teen romance favoritku adalah cinta yang tak bisa tersampaikan. Mungkin sedikit banyak terpengaruh lirik-lirik lagu AKB48, yang kebanyakan bercerita tentang jenis cinta ini. Tetapi, ya, banyak remaja yang mengalami ini, kan? Paling tidak, dulu aku sering mendengar cerita cewek-cewek suka cowok tetapi tidak berani bilang. Cinta diam-diam. (Oh, ya, jadi ingat waktu SMA aku pernah diminta teman cewekku untuk meminta nomor telepon cowok yang dia suka >.<)

Di cerita ini, Lara Jean Song Covey, cewek keturunan Korea-Amerika, menyampaikan cinta tak tersampaikannya lewat surat. Ide dasarnya cukup segar. Bagaimana jika pernyataan suka diam-diam kita sampai ke orangnya? Apakah kita siap dengan konsekuensinya, apakah kita memang ingin perasaan itu tersampaikan, atau sebenarnya kita menyimpannya karena kita tidak benar-benar suka? Atau kita takut akan ditolak? Atau tidak siap dengan hubungan jika diterima? Yup, banyak pertanyaan yang cenderung sederhana tetapi bisa jadi sangat filosofis dan penting.

Anak Tengah di Tengah-Tengah
Selain romance, dalam novel 368 halaman ini ada cerita tentang hubungan Lara Jean dengan dua saudarinya. Lara Jean menjadikan Margot sebagai panutan, pengganti ibu mereka yang sudah meninggal. Dan Lara Jean ingin menjadi panutan bagi adiknya, tetapi Kitty tampak lebih tegas dan mandiri dibandingkan Lara Jean. Ini membuatku teringat dengan teori ‘anak tengah’, di mana mereka selalu menjadi di antara banyak hal. Dia bukan anak-anak sepertinya adiknya, tetapi juga tidak sepenuhnya dewasa menjadi seperti kakaknya. Selain itu, juga terkait dengan “tengah-tengah” adalah tentang ras tokoh utama. Lara Jean keturunan Korea-Amerika. Ayahnya Amerika, ibunya Korea. Dan orang-orang sering bertanya apa dia? Korea-kah? Atau Amerika-kah? Terkadang itu membingungkan karena rasanya dia tidak berada di satu posisi yang pasti. Pernah mengalami hal seperti ini?

Sumber Gambar: Tumblr Jenny Han
Jenny Han, yang sebelumnya menulis trilogi The Summer I Turned Pretty dan Burn to Burn, menulis sebuah cerita remaja dengan manis dan lembut. Dia membuat tokoh Lara Jean sebagai anak rumahan baik-baik, sehingga pasti banyak pembaca cewek bisa gampang mengidentifikasi diri mereka dengan Lara Jean. Tokoh-tokoh yang lain pun juga menarik. Walaupun seperti kebanyakan cerita remaja Amerika para karakternya sangat tipikal. Selain itu, adegan-adegannya natural, romantisnya tidak berlebihan, (yup, tidak ada adegan seks tidak penting) dan juga lucu. Banyak adegan di dapur di mana Lara Jean membuat kue atau memasak. Namun, adegan tentang masak-memasak membaur dalam kepentingan cerita.

Salah hal yang tidak terlalu penting tetapi aku suka adalah Lara Jean mengatakan pada Peter kalau buku ketiga Harry Potter adalah yang terbaik. (Aku juga sangat sangat suka Harry Potter and The Prisoner of Azkaban!!!) Lara Jean heran kenapa Peter berhenti membaca di buku kedua. Sayang sekali. 



Covernya sangat menarik, ya? Foto cewek sedang di kamar, tiduran di kasur, dan memegang kertas, sangat pas dengan Lara Jean. Tulisan judulnya juga keren, tulisan tangan dengan spidol, saat disentuh seakan-akan memang ditulis dengan spidol permanen. Pastinya, aku tidak sabar untuk membaca kelanjutan cerita Lara Jean ini. Ya, ini kayaknya akan jadi trilogi seperti buku-buku Jenny Han sebelumnya.

Thursday, February 20, 2014

2014/7 Can't Wait to Get to Heaven (Fannie Flagg)

Judul asli: Can’t Wait to Get to Heaven
Penerbit: Voila Books
Jumlah halaman: 525 halaman
Penerjemah: Dian Guci
Editor: Suhindrati a. Shinta
Penyelaras aksara: Ifah Nurjani, Alfiyan
Pewajah sampul: Widu Budi
Pewajah isi: elcreative26

Satu hari di Elmwood Springs, Missouri, tanggal 1 April 
Elner Shimfissle, berumur lebih kurang 89 tahun (bahkan keponakannya sendiri tidak tahu pasti umur Elner berapa), jatuh dari tangga saat mengambil buah ara dari pohonnya. Dia tidak sengaja menyentuh sarang tabuhan (tawon besar) sehingga dia diserang sekumpulan hewan ganas itu hingga jatuh. Dengan tubuh setua itu, dan gemuk, Elner membuat orang-orang tak yakin dia selamat. Tetangganyalah yang menemukan dia pertama kali. Dia dibawa ke IGD rumah sakit di Kansas city, karena Elmwood Springs hanyalah kota kecil yang tidak punya IGD. Elner diperiksa, lalu dinyatakan dia meninggal pukul 09.47.

Berita itu membuat semua orang yang mengenal Elner terkejut dan sedih. Terutama Norma, keponakannya yang sangat dekat dengannya. Semua orang mengenal Elner sebagai orang yang baik, ramah, senang membantu, dan berpikiran terbuka. Walaupun Elner kalah cantik dan pintar seperti adiknya, Ida—yang mana adalah ibu dari Norma—tetap saja Elner menjadi sosok yang menarik. Dia selalu mempertanyakan hal yang jarang dipikirkan orang, memperhatikan orang lain yang tidak diperhatikan, dan banyak kebaikan lain. Bahkan yang tidak pernah kamu bayangkan akan dilakukan oleh seorang berusia paruh baya. 

Meninggalnya Elner membuat semua orang sedih, dan acara pemakaman pun dipersiapkan. Seluruh kota siap untuk berbela sungkawa. Namun, Elner mengalami NDE (Near Death Experiences) dan kembali hidup. Seorang perawat muda panik setengah mati melihatnya. Norma pingsan untuk kesekian kalinya. Sebuah kejutan tak diharapkan, tetapi semua senang bahwa Elner tidak jadi meninggal. 

Tentang masyarakat
Novel ini menggunakan sudut pandang orang ketiga mahatahu (omnisien). Jadi, pembaca bisa mengetahui apa saja yang terjadi akibat berita kematian tersebut. Mulai dari orang-orang terdekat Elner, yaitu Norma, Macky—suami Norma, Tot dan Ruby—tetangga Elner, penyiar radio, redaksi koran lokal, teman Elner di wilayah pertanian pinggir kota, banyak orang lagi, hingga anak Norma yang tingga jauh di St. Loius. Kita bisa mendapatkan bagaimana hubungan para tokoh itu dengan Elner. 

Tentu saja ini membuat begitu beragamnya karakter di dalam novel ini. Setiap karakter dibuat berbeda, namun tetap memperlihatkan bagaimana masyarakat kota kecil Amerika. Mereka saling mengetahui kabar masing-masing, saling peduli, dan akur. Sebuah kejadian seperti kematian, bisa sangat menghebohkan. 

Di mana klimaksnya?
Hal pertama yang kupelajari dari novel ini adalah pembukaan novel mestilah mencerminkan isi buku. Sejak awal pembaca sudah diberitahu bahwa novel ini komedi dan gaib. Maksudku, sejak awal ada dialog lucu serta adegan arwah Elner mengomentari keadaan di sekitarnya. 

Setelah Elner Shimfissle tak sengaja menjolok sarang tabuhan di atas pohon ara miliknya itu, hal terakhir yang diingatnya adalah berpikir sendiri, “Waduh!” .... “Tuhan yang baik,” pikirnya. “Ada-ada saja, sih." (halaman 1)

Dan berikutnya Elner mengomentari jubah hijau para tenaga medis yang sedang berusaha membuatnya tetap tejaga. Arwah Elner sendiri, tanpa dia sadar, sudah berpisah dengan jasadnya.

Kedua, setiap hal yang dibicarakan oleh karakter mestilah ada pengaruhnya dengan konflik utama. Di sini, walaupun konfliknya cukup ajaib tetapi bukan sesuatu yang bombastis, adalah tentang Elner yang meninggal sementara dan melalui perjalanan ke ‘surga’. Hal-hal yang dibicarakan oleh dia sebelumnya dan oleh karakter-karakter lain, terkait denga percakapannya dengan ‘pencipta dunia’, yang teryata adalah sepasang suami istri Dorothy dan Raymond. Neighbor Dorothy adalah acara radio kegemaran Elner dulu.

Ketiga, penulis bisa menyampaikan pesan tanpa ceramah dengan membuat karakter mengobrol satu sama lain. Tambahkan humor dan sinisme agar membuat dialog menarik.

Keempat, kita bisa mengeksplor sebuah kejadian berdampak pada bermacam-macam karakter, sehingga, well, untuk penulis yang kesusahan menulis 'tebal',  ini bisa jadi salah satu solusi. Coba bayangkan sebuah sebab dan pikirkan puluhan akibatnya. Pikirkan pula puluhan akibatnya terhadap orang-orang yang akan terkena dampak. Begitulah kita bisa membuat cerita yang lebih menarik.

Walaupun begitu, beberapa bagian novel ini cenderung membosankan. Perbedaan ritme cerita di awal dan menjelang penghabisan jauh berbeda. Di awal fasenya lambat. Adegan satu hari menghabiskan lebih setengah buku. Sedangkan seperempat terakhir buku terlalu cepat. Bab-bab menjadi pendek, kronologi melompat satu tahun begitu saja. Tentu saja, jika ingin cerita yang lebih detail akan jadi mubazir dan novelnya bisa setebal 2000 halaman. 

Masalah lain adalah aku tidak mengerti di mana klimaksnya. Menurutku cerita ini bisa selesai setelah Elner kembali tinggal di rumahnya setelah kejadian ajaib bertemu tuhan tersebut. Itulah kilmasknya. Namun, kita diberikan cerita tambahan karena banyak hal dan karakter yang menuntut untuk diberi peyelesaian. Dasar penulisnya sangat baik, setiap karakter mendapat porsi cerita, bahkan karakter yang sangat minor. Oh, ya, bahkan penulis menceritakan tentang kue dan pistol. Akibatnya dua bab terakhir terpaksa menjadi rekap kejadian yang bisa dijabarkan, tetapi akan memakan banyak tambahan halaman. Kita tahu, bab rekap itu kurang menyenangkan. 



Novel ini tetap menarik. Penulis mengangkat tema kematian dan kebaikan dengan kocak, bertokohkan lansia (hampir tidak ada tokoh berusia di bawah 30 tahun), dan narasi cukup segar tak berbelit-belit. Dan aku jadi ingin kembali sesekali menonton Golden Girls, serial TV  yang pernah kutonton masih zaman kuliah. Hahaha.

2014/6 The Miraculous Journey of Edward Tulane (Kate DiCamillo)

Judul: The Miraculous Journey of Edward Tulane 
Penulis: Kate DiCamillo

Sumber Gambar: Poplar
(aku baca versi bahasa Indonesia, kok :D)

2014/4 Pay It Forward (Catherine Ryan Hyde)

Sumber: aksiku.com
Judul : Pay It Forward
Penulis: Catherine Ryan Hyde
Penerjemah: Diniarty Pandia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: 1, Maret 2001

Sastra adalah propaganda
Salah satu cara untuk menyampaikan idemu adalah melalui sastra, dengan menulis fiksi. Sejarah telah banyak membuktikan ini cukup ampuh. Tanpa kekerasan. Tanpa pemaksaan. Cerita bisa memengaruhi orang, merasuk ke alam bawah sadar mereka. Coba diingat kembali, buku apa yang suka kamu baca waktu kecil? Tidak mengherankan salah satu atau beberapa sifatmu terpengaruh oleh watak tokoh dari buku tersebut. Bahkan ada penelitian yang menunjukkan perbedaan sebuah bangsa berdasarkan ciri khas dongeng anak-anak mereka.

Novel yang sudah difilmkan dengan judul yang sama, Pay It Forward, pada tahun 2000 ini bisa dibilang sebagai karya propaganda. Isinya terang-terangan menunjukkan sebuah ide untuk mengubah dunia. Pay It Forward, atau Membalas ke Yang Lain. Ide yang diawali sebuah tugas di kelas ilmu sosial SMP, oleh anak berumur tiga belas tahun.

Tugasnya sederhana:
PIKIRKAN SEBUAH IDE UNTUK MENGUBAH DUNIA. DAN LAKSANAKAN IDE ITU.

Trevor McKinney, siswa tersebut, melaksanakan tugasnya dengan sungguh-sungguh. Dia bisa saja tidak mengerjakannya karena tugas tersebut hanya untuk nilai ekstra. Namun, menjadi seorang anak kecil berarti tidak ada yang tidak mungkin untuk dilakukan. Sedangkan orang tua selalu melihat penghalang dalam mewujudkan impian mereka.

Idenya begini: A akan melakukan sebuah bantuan kebaikan kepada tiga orang. Kebaikan yang besar, sesuatu yang bisa mengubah hidup orang-orang tersebut, membuat mereka sangat bersyukur. Kemudian masing-masing akan membalas ke tiga orang lagi. Dari 3 menjadi 9 menjadi 27 menjadi 81. Seperti MLM tetapi lebih tulus.

Reuben St. Clair, guru ilmu sosialnya, terkesan dengan ide tersebut. Bahkan dialah salah satu orang yang ditolong Trevor. Reuben adalah veteran perang Vietnam, sebuah kecelakaan perang membuat sebelah mukanya terbakar, mata kirinya hilang. Dia memakai penutup mata ke mana-mana. Dia pun sudah terbiasa melihat pandangan aneh orang setiap pertama kali melihatnya.

Orang pertama yang dibantu oleh Trevor adalah Jerry, seorang tunawisma. Trevor memberinya uang untuk membeli pakaian dan melamar pekerjaan. Orang kedua adalah Ida Greenberg, nenek tua yang kesepian dan tidak dipedulikan anaknya. Trevor membantunya dalam merawat taman dan kucingnya, dua hal yang dicintai Mrs. Greenberg. Dan orang ketiga adalah Reuben. Trevor berusaha menjodohkan gurunya dengan ibunya sendiri, Arlene McKinney.

Namun, tidak ada yang berjalan dengan mulus. Jerry kembali ke kebiasaan lamanya berjudi tepat setelah gajian pertama diterima—yang langsung habis. Mrs. Greenberg meninggal dunia tanpa sempat membalas ke yang lain. Sedangkan Reuben tak serta merta bisa menerima hubungan dengan Arlene, karena dia masih memiliki ketakutan diakibatkan fisiknya dan segala macam.

Trevor hampir menyerah, hingga tanpa disadarinya, setiap orang masih punya nurani untuk menolong orang lain.

Kelompok marginal
Penulis berhasil membuat adegan-adegan dramatis namun tidak cengeng. Padahal dia sengaja menyorot kelompok-kelompok yang terpinggirkan dan memang patut ditolong, tetapi di dunia nyata mereka terkadang disalahartikan sebagai ‘kurang manusia’. Lihat saja orang-orang yang ditolong Trevor: tunawisma-pengangguran, orang tua kesepian, orang dengan keterbatasan fisik. Belum lagi tokoh-tokoh yang memperoleh efek pay it forward dari orang yang Trevor tolong: kasir remaja di toko sembako, gadis gemuk yang rapuh, anggota geng kelas teri, gay, dan waria. Bahkan keluarga Trevor sendiri tidak lengkap, ayahnya seorang tak bertanggung jawab yang pergi begitu saja tanpa kabar dan datang begitu saja tanpa merasa bersalah. Orang-orang bermasalah juga manusia, juga membutuhkan pertolongan. Niat baik Trevor hanya untuk mengubah dunia, sesuatu yang mungkin saja bisa tercapai.

Hal ini mengingatkanku pada pendapat bahwa adalah manusiawi jika manusia melakukan kejahatan. Kita membaca kisah Habil dan Qobil di kitab suci, atau kisah Adam dan Hawa memakan buah terlarang. Manusia memang berbuat salah. Malah aneh manusia melakukan kebaikan kepada sesamanya. Dan, ya, dalam novel ini gerakan Membalas ke Yang Lain diliput oleh media. Saat efeknya tersebar ke banyak penjuru semakin banyak berita kebaikan di koran. Seandainya saja memang hanya berita seseorang melakukan kebaikan kepada orang lain yang masuk berita. Seandainya~

Novel vs. Film
Aku tidak terlalu banyak membaca buku yang difilmkan dengan urutan menonton dahulu baru membaca bukunya. Namun, setiap kali mencoba selalu merasa buku lebih komplit dan memuaskan bagiku. Dengan keterbatasan masing-masing, buku jauh lebih unggul dalam segi menyampaikan cerita. Kita bisa diberi penguluran waktu, berdebar-debar menunggu kejadian selanjutnya, berkali-kali, saat membaca buku. Sedangkan film, kebanyakan masalah yang kompleks terihat begitu sederhana. Kurang terasa, seperti makan dengan sambal yang kurang pedas.

Namun, penggunaan sudut pandang yang berpindah-pindah, walaupun dijelaskan, cukup mengangguku, membuat aku agak kesulitan menyelesaikan lebih cepat. Jika saja buku ini disajikan tanpa ada POV 1 (dalam bentuk wawancara atau jurnal para tokoh) tiba-tiba muncul di POV 3, tentu proses pembacaan akan lebih lancar.

Buku ini sangat bagus untuk dibaca demi memahami apa itu pay it forward. Dan gerakan ini bisa dilakukan oleh siapa saja. Yup, beginilah hakikat sebuah karya fiksi, tugasnya untuk menyampaikan propaganda.